Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Anjing Yang Pandai Berkicau

Rintihan sendu yang mencekik keadaan Disisir bising celoteh kemunafikan Terharu di bawah lapisan hitam—kepanasan Terhura-hura di balik kemegahan, hasil rampasan Nestapa yang nihil dihindarkan Telak dirasa karena moncong-moncong paksaan Proses dari keringat basah yang bercucuran Hanya diupahi beberapa keping recehan Nyawa, sawah, lahan rakyat yang jadi taruhan Dinikmati cuma-cuma oleh keparat yang penuh bualan Bangsat, bukan?! Senandung desah memperkosa keadilan Sumpah suci yang diikrarkan atas nama Al Quran Harus tercemar bagai sampah busuk yang berserakan Gedung putih jadi tempat bersarangnya keserakahan! Ya, asyik bersanggama di tengah krisis kesetaraan. Akal waras yang tak pernah dibimbing Menggong-gong kesejahteraan begitu nyaring Gemerlap safari yang selalu dikancing Semerbak aromanya menyengat seperti pesing Di mana ada lahan, di situlah tempatnya kencing Lantas, apa bedanya dengan anjing?! Merawat peradaban dengan akal sinting Melahirkan budaya yang mudah menuding Yang salah bi...

Dosa Nafsu Birahi

Betapa terpuruknya keadaan sangkar kedasih yang ditinggal pergi sang induk berdiplomasi ke kandang kerbau. Anak-anak kedasih saling merengek argumentasi lantaran pagi tadi sang induk tak meninggalkan seekor jangkrik untuk sarapan. Berhari-hari ditinggal pergi sang induk, keadaan sangkar masih bising karena kicauan argumentasi. Kelaparan yang melanda sejak beberapa hari lalu tak lagi menjadi topik perdebatan di dalam sangkar. Kini hanya soal siapa yang kuat, ia yang akan menjadi penguasa sangkar. Sang induk yang kesibukannya berdiplomasi di luar sangkar, tak sempat memberikan wejangan tentang kemajemukan sesama anak kedasih. Sang induk terlalu nyaman berada di luar sangkar dan berpindah dari kandang satu ke kandang lainnya. Sandiwara di dalam sangkar semakin penuh dialektika antar anak kedasih. Martabat dan harga diri menjadi pertaruhan dalam dialektika kekuasaan. Kicauan-kicauan liar tak dapat dipasung kebisingannya. Hasrat yang tak dapat diredam kemunafikannya. Sang kedasih, harus rel...

Ideopolitor - Stratak

Apa itu ideologi? Secara etimologi menurut Moh. Suardi dalam  Ideologi Politik Pendidikan Kontemporer  menjelaskan, secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu  idea  dan  logia .  Idea  berasal dari  idein  yang berarti "melihat".  Idea  juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan suatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna 'ilmu pengetahuan atau teori', sedangkan kata "logis" berasal dari kata logos dari kata legein yang artinya "berbicara". Istilah ideologi dicetuskan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) saat Revolusi Prancis sebagai upaya untuk mendefinisikan sains tentang ide. Secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus dalam pikiran. Secara terminologi menurut Karl Marx  adalah kesadaran palsu karena ideologi merupakan suatu hasil pemikiran yang diciptakan oleh pemiliknya yang ditentukan oleh kepentingannya. Seda...

Intimasi.

Ada yang harus diimani untuk diamini, ada pula yang harus diyakini untuk kemudian dijalani. Dewasa ini tanpa disadari kita melupakan tanda-tanda yang telah diberikan. Namun pada akhirnya nanti, kita akan tersadar bahwasanya tanda-tanda itu merupakan petunjuk dan bukti yang nyata. Kelalaian bisa menyebabkan kekacauan, begitu pun dengan kecerobohan yang akan menimbulkan kerusakan. Menafikkan diri pada kausalitas rambu-rambu yang menjadi petunjuk pada sebuah jawaban—menguburnya hingga tak lagi berarti sebagai aturan. Kemudahan adalah suatu impian yang didamba terhadap lika-liku proses yang akan membawa pada suatu jawaban. Kegelisahan yang tak tertahankan membuat proses yang awalnya hanya sekedar menyeberangi sungai kecil di pedesaan, harus membawanya ke aliran samudera hingga berjumpa dengan gelombang ombak di tengah lautan. Ekspektasi bebas diekspresikan sebagai anugerah dari Tuhan agar sebuah pencapaian bisa terkonsep hingga menjadi kenyataan. Beberapa perencanaan tetap digelar dalam p...

Kastubamani Langeh.

Kepergiannya seperti malam yang ditinggal rembulan tenggelam. Kehadirannya bagai pagi yang bergulir untuk menjemput temaram. Sejatinya dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang. Tidak ada kecewa yang dirasa sia-sia. Semua ketentuan dan segala ketetapan, takkan pernah luput dalam garis kehidupan. Teriring penggalan sajak yang aku goreskan serta rapalan doa yang aku serukan. Diskusi sunyi meriuhkan hampa perasaan yang sempat hilang arah dan tujuan. Meruahkan cahaya di ruang kegelapan yang penuh akan keterasingan. Semerdeka itu hatiku dibuat gegap gempita oleh sebuah kehadiran. Jamuan yang belum sempat kusiapkan, ruangan yang masih sesak nan berhamburan, segalanya tak dapat terelakkan. Semringah hati yang begitu antusias perihal tamu yang telah kukenal di hari lalu. Jiwaku dipenuhi ribuan tanya, ragaku dihantui segala tentangnya, namun hatiku berkata; perjumpaan ini telah lama kudamba.  Tak sepucuk pun surat yang kuterima, Perihal dirinya yang datang secara tiba-ti...

Terbang Meringkih, Berjalan Pun Tertatih-tatih.

Langkah kaki yang tergontai di atas cakrawala Terbiaskan bentang sayapnya dalam pelukan senja. Embusan talkin hanya sekedar bisingan formalitas Mukadimah bersuar di hadapan hiruk pikuk yang melintas Menerjang ansar dalam kepalan yang begitu buas Tak terelakkan dengkinya celotehan komoditas Tujuan tetaplah tujuan, meski tak tersedianya panggung pentas. Nyanyian bajik dilenyapkan oleh bantahan lantang Fitrah kelahiran tercemar akan praktis yang menantang Keistimewaan tajuk tak lebih mulia di antara kangkang Egosentrisme melampaui batas norma yang melarang Buta tak mendengar, tuli bersulang dan berdendang. Sulam menyulam menjadi satu; syairnya sangat merdu Diharuskan terpontang-panting akan riuhnya undangan tamu Inikah warisan yang diserukan dahulu? Konsensus digoyahkan pada sebersit cakap yang dijamu Tak lagi diramu, kekonyolan telak dirasa dengan senyuman dungu. Pertanggungjawaban atas kesepakatan hanya menjadi bualan Kemaslahatan dinodai dalih mengatasnamakan “kemanusiaan” Diskursus di...

Surealisme.

Terlalu besut untuk memanen, namun tidak tahu caranya menanam. Jalan panjang arus kehidupan telah banyak menawarkan pelbagai pilihan. Di pojok timur semakin santer terdengar rintihan. Di tengah barat tak terbendung riuhnya genderang. Utara dan selatan yang belum dijamah keegoisan. Hal yang paling sulit di dalam hidup adalah ketika dihadapankan pada pilihan yang mana di antara pilihan itu, ada yang harus diindahkan dan ada pula yang harus dikecewakan. Sebab di dalam hidup ketika sedang berjalan, mustahil untuk melangkahkan kedua kaki secara bersamaan. Ambisi seakan merasuk ke dalam jiwa-jiwa hampa yang luput akan kesadaran. Menyeruak bagai ombak yang mampu menenggelamkan kapal beserta awak di dalamnya. Evolusi semakin pesat merambak tataran kehidupan ini laiknya kuda yang dipacu untuk terus berlari. Berperan utama sebagai aktor bukan hanya dituntut melakoni latar drama yang akan ditunjukkan, namun juga penting untuk memahami skenario yang diberikan. Kita kerap menuntut hasil untuk semp...

Kiri Reputasi, Lurus Tendensi.

Indikasi-indikasi yang bermunculan di era modernisasi ini, kerap menuaikan seutas tendensi pada representasi identitas. Spontanitas yang lahir seiring banyaknya variabel integritas, kendati hanya untuk sekadar menutupi lorong penderitaan yang belum sempat terobati. Jentera peradaban yang tak hentinya bergulir menyisakan coretan sejarah baru. Kita menampikkan sebuah ironi di tengah realitas yang menyuguhkan pelbagai pilihan. Kontaminasi melahirkan distorsi dalam catatan identitas sosial, yang seakan turut menghadirkan eksistensinya agar tak lekang seiring peradaban yang semakin lanjut usia. Hegemoni telah banyak merampas jiwa-jiwa di tengah pencariannya yang masih dalam tahap penentuan arah. Dilematisasi terus menghantui perjalanan sunyi antara pikiran dan hati, sebab di dalam keputusan keduanya sama-sama melahirkan konsekuensi. Belum lagi skeptisisme yang menjadi persoalan ketika sudah benar-benar matang mengambil sebuah keputusan.  Lika-liku tak mungkin terlepas dalam proses menca...

Prasada Kosmos.

Ndak ada malam yang dilahap pagi. Siang pun ndak digantikan oleh petang. Begitu pun malam ndak bermaksud menggulirkan senja. Ekstase yang manusia alami tentang segala keindahan, kerap membuatnya menjadi dualisme penyembah estetika kehidupan. Terkadang rindu akan getaran musik Maha Agung, sedang di sisi lain keegoannya masih terbuai pada selain Maha Ego—yang kita tahu—ndak egoistik itu. Simbol-simbol kehidupan telah banyak mengintervensi kelahiran sunyi yang akan menembus batas pada jiwa-jiwa yang berkedok hipokrit. Antara jasad dan ruhani acap kali menjadi ajang adu domba dalam pergelutan melawan kuasa nafsi. Dengan lantas kita begitu mudah memberi warna pada secarik kertas lusuh, di tengah konstelasi selembar kertas putih mulus yang tidak sama sekali ada keberanian untuk menggoreskan sebait kalimat di dalamnya.  Kita tentu bisa menjadi bebas laksana garuda yang terbang di udara, dan merdeka sambil mengepakkan sayapnya di atas cakrawala, hingga menyeruak di bentang samudra. Namun k...

Apa dan Siapakah Deraka?

Kemacetan panjang lalu lintas birokrasi Riuh di lajur kanan oleh iring-iringan kaum berdasi Seraya menghambat tujuan kaum-kaum madani Protes demi protes mulai bersahutan di sana-sini Bisingnya desibel sirine yang tak henti-henti Disusul laju kecepatannya yang teramat tinggi Membuyarkan konstelasi pembahasan Ibu Pertiwi Hingga melebihi suara azan di masjid Al Islami. Konsep hukum bukan lagi soal haram-halal Kesejahteraan tidak lagi bersifat substansial Barang siapa yang menghamba pada tuhan feodal Niscaya hukum tidak akan mempan alias kebal Ambisi melumpuhkan kesehatan akal Di balik suara yang berada di dalam kardus abal-abal Yang banyak melahirkan ihwal kontroversial Ekualisasi diperkosa hasrat yang tak lagi bermoral Kedaulatan menjadi barang pokok yang kerap dijual Agar saku tetap terisi oleh kucuran modal. HAHAHA, LICIK SEKALI KAU, DAJJAL!!! Wajah-wajah hipokrit semakin terlihat nyata Lantaran sering lupa menutupi kedunguannya Gedung putih tak lagi suci seperti warnanya Sajian Interv...

Buta Mata, Buta Hati.

Nurani tak lagi berguna ketika naluri telah terpasung oleh ambisi nafsi. Memaksakan diri tanpa alas kaki untuk melewati panasnya bara api. Kata “Tuhan” disebut ratusan hingga ribuan kali setiap hari. Namun konsep dosa tidak memiliki fungsi di hampir setiap kebijaksanaan yang menyangkut orang banyak. Naluriah manusia menjadi disfungsi akibat banyaknya dominasi yang tidak dipilah untuk dikonsumsi. Sebuah generasi yang mewarisi malapetaka sosial ekonomi dan bencana ekologi kepada anak cucunya adalah generasi ruhani yang mabuk di atas singgasana “aku manusia”—suatu kesadaran sekuler. Kemerdekaan yang Tuhan sematkan membuat manusia terbelenggu akan nafsu yang menjadikannya sebagai reinkarnasinya Namrud. Dewasa ini kita kerap dipertontonkan pada banyak hal yang tidak benar yang dilakukan penguasa-penguasa manusia dalam manajemen alam semesta ini. Sengkuni yang kita kenal dalam imajinasi ternyata bukanlah benar-benar tokoh yang fiksi. Sengkuni telah merasuk zhohir dan bathin para penguasa yan...

Jalang Yang Pandai Berhutang.

Jangan salahkan pisaunya yang terlalu tajam. Sebab fungsi aktualnya memang untuk memotong. Tapi, di tangan siapa pisau itu digenggam, karenanyalah pisau itu diasah. Ada yang terlalu fokus terhadap objektivitas, hingga lupa bahwa ada hal yang disebut sebagai subjektivitas. Lagi dan lagi, di penghujung dewasa ini kita sering kali dipertontonkan oleh sebuah aktivitas sistem yang kerap menuai berbagai kontroversi. Sejatinya segala kebijakan adalah suatu hal yang harus dijalankan, malah yang terjadi adalah makin banyaknya ruang publik yang memperbincangkan hingga menjadi bahan bualan di banyak kalangan. Perbedaan-perbedaan intonasi yang tercipta sebagai penyeimbang birokrasi, ironisnya melahirkan disparitas dan menuai tendensi. Berbagai cara dilakukan demi sebuah kelanggengan reputasi, hingga menelantarkan betapa mulianya nilai harga diri. Lahirnya phobia ke dalam sistem menyebabkan kesadaran akal menjadi hilang. Tidak ada lagi keadilan yang menunjang, yang berlaku kini adalah kebijakan huk...