Rintihan sendu yang mencekik keadaan Disisir bising celoteh kemunafikan Terharu di bawah lapisan hitam—kepanasan Terhura-hura di balik kemegahan, hasil rampasan Nestapa yang nihil dihindarkan Telak dirasa karena moncong-moncong paksaan Proses dari keringat basah yang bercucuran Hanya diupahi beberapa keping recehan Nyawa, sawah, lahan rakyat yang jadi taruhan Dinikmati cuma-cuma oleh keparat yang penuh bualan Bangsat, bukan?! Senandung desah memperkosa keadilan Sumpah suci yang diikrarkan atas nama Al Quran Harus tercemar bagai sampah busuk yang berserakan Gedung putih jadi tempat bersarangnya keserakahan! Ya, asyik bersanggama di tengah krisis kesetaraan. Akal waras yang tak pernah dibimbing Menggong-gong kesejahteraan begitu nyaring Gemerlap safari yang selalu dikancing Semerbak aromanya menyengat seperti pesing Di mana ada lahan, di situlah tempatnya kencing Lantas, apa bedanya dengan anjing?! Merawat peradaban dengan akal sinting Melahirkan budaya yang mudah menuding Yang salah bi...
Dari pencinta, untuk sang Pencipta.