Riuhnya akulturasi di tengah peralihan zaman saat ini membuat manusia tidak lagi mengenali identitasnya. Warisan peradaban begitu disangkalnya sebab hanya dianggap sekedar peninggalan. Roda zaman yang melaju begitu pesat bak langit yang dipotret sinaran kilat. Tak mengacuhkan bising derunya di tengah kenyamanan—membuyarkan imaji yang tengah menari-nari di pelosok pedesaan. Irama baru peralihan zaman seraya membeberkan undangan, membungkus surat lawas dengan celotehan nada sumbang. Petuah bapak harus tersalip dengan lirik muda yang baru dihafalnya sepulang bercengkerama di sudut metopolitan. Repertoar luhur yang menyuguhkan pengakraban pada nilai-nilai kehidupan tidak selayaknya lagi digandrungkan. Falsafah yang sudah tertanam tak lagi mengenyam kaidah dasar kehidupan; sudah mati tertimbun adisi afinitas. Sinaran peradaban yang mulai pudar berubah warna. Seiring kilauan modernisasi yang semakin berkelip di bawah bias purnama. Makna yang dilontarkan bapak tidak sama sekali merasuk ke tel...
Dari pencinta, untuk sang Pencipta.