Peradaban manusia telah banyak menodai proses kehidupannya sendiri. Ekstremisme keadaan yang sedang marak menawarkan pandangan tentang pengakuan atas keyakinan. Dialektika pun seakan menjadi alat komoditas khusus demi menarik atensi pelanggan yang ditargetkan. Kendati dalam hal ini adalah proses penawaran itu sendiri yang membandingkan kebenaran yang ditawarkan terhadap banyaknya kebenaran. Akibatnya timbul persepsi yang menyebutkan bahwa komoditas keyakinan adalah ajang kompetitor untuk keyakinan itu sendiri. Dewasa ini kita sering dihadapkan antara satu sama lainnya terhadap suatu pembenaran yang masih menjadi spekulatif. Dengan demikian, banyaknya argumen dari berbagai perspektif pun tak dapat disangkal kehadirannya. Dalil-dalil yang mengatasnamakan Tuhan tidak lagi disucikan lantaran banyaknya ketidak warasan yang disebarkan, yang menimbulkan stigma bahwa dalil yang dibawakan hanya untuk semata kepentingan. Propaganda yang diberikan layaknya kurikulum yang diajarkan pada prose...
Dari pencinta, untuk sang Pencipta.