Kepergiannya seperti malam yang ditinggal rembulan tenggelam.
Kehadirannya bagai pagi yang bergulir untuk menjemput temaram.
Sejatinya dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang. Tidak ada kecewa yang dirasa sia-sia. Semua ketentuan dan segala ketetapan, takkan pernah luput dalam garis kehidupan.
Teriring penggalan sajak yang aku goreskan serta rapalan doa yang aku serukan. Diskusi sunyi meriuhkan hampa perasaan yang sempat hilang arah dan tujuan. Meruahkan cahaya di ruang kegelapan yang penuh akan keterasingan. Semerdeka itu hatiku dibuat gegap gempita oleh sebuah kehadiran.
Jamuan yang belum sempat kusiapkan, ruangan yang masih sesak nan berhamburan, segalanya tak dapat terelakkan. Semringah hati yang begitu antusias perihal tamu yang telah kukenal di hari lalu.
Jiwaku dipenuhi ribuan tanya, ragaku dihantui segala tentangnya, namun hatiku berkata; perjumpaan ini telah lama kudamba.
Tak sepucuk pun surat yang kuterima,
Perihal dirinya yang datang secara tiba-tiba.
Tak sedikit pun kabar yang kudengar,
Kehadirannya membuat degupku seraya bergetar.
Tak sekelumit pun pertanda yang kugenggam,
Dirinya menyapaku di kala sepertiga malam.
Malam itu; dingin tak lagi mencekam, sunyi tak terasa menikam, gelap pun dapat dengan mudah kuredam. Sungguh, kehadirannya mengubah suasana hampa tidak lagi mencengkeram.
Aku yang mengira seruanku takkan didengar Tuhan, aku yang berprasangka segala khayalku hanyalah sebatas angan, aku yang beranggapan perasaanku mustahil terungkapkan, dan aku yang selalu pasrah pada kenyataan.
Nyatanya, pintaku pada Tuhan, dijawab seluruhnya tanpa sedikit pun kekurangan.
Lamunanku yang selama ini tengah berpendar seketika membuyar. Kucoba sibak jendela hati, ruang hampa yang selama ini menanti, tengah kupersiapkan untuk sang penghuni.
Ini bukan kali pertamanya aku berjumpa dengannya, bukan pula pertama kalinya aku menikmati senyumnya. Syahdu hatiku menatap manik hitamnya, sejuk hatiku memandang manis rupanya.
Bunga-bunga tidurku tak lagi indah untuk dipejamkan, sebab bunga-bunga itu telah menjelma cahaya yang kunanti-nantikan. Tak banyak yang kuharapkan pada kehadirannya saat ini, satu pintaku pada Sang Pemilik Hati agar tetap menjadikan hati ini sebagai rumah untuk penghuni sejati.
Aku sadar selama ini, bahwasanya Tuhan bukan tidak mendengar segala pinta yang kuserukan, hanya saja Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk segala penantian yang selama ini kurindukan.
Nestapa menjadi bahagia.
Duka menjadi suka.
Luka menjadi tawa.
Kisah lama yang terulang kembali akan kurawat sampai hari tua.

Komentar
Posting Komentar