Langsung ke konten utama

Kastubamani Langeh.


Kepergiannya seperti malam yang ditinggal rembulan tenggelam.

Kehadirannya bagai pagi yang bergulir untuk menjemput temaram.


Sejatinya dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang. Tidak ada kecewa yang dirasa sia-sia. Semua ketentuan dan segala ketetapan, takkan pernah luput dalam garis kehidupan.


Teriring penggalan sajak yang aku goreskan serta rapalan doa yang aku serukan. Diskusi sunyi meriuhkan hampa perasaan yang sempat hilang arah dan tujuan. Meruahkan cahaya di ruang kegelapan yang penuh akan keterasingan. Semerdeka itu hatiku dibuat gegap gempita oleh sebuah kehadiran.


Jamuan yang belum sempat kusiapkan, ruangan yang masih sesak nan berhamburan, segalanya tak dapat terelakkan. Semringah hati yang begitu antusias perihal tamu yang telah kukenal di hari lalu.


Jiwaku dipenuhi ribuan tanya, ragaku dihantui segala tentangnya, namun hatiku berkata; perjumpaan ini telah lama kudamba. 


Tak sepucuk pun surat yang kuterima,

Perihal dirinya yang datang secara tiba-tiba.


Tak sedikit pun kabar yang kudengar,

Kehadirannya membuat degupku seraya bergetar.


Tak sekelumit pun pertanda yang kugenggam,

Dirinya menyapaku di kala sepertiga malam.


Malam itu; dingin tak lagi mencekam, sunyi tak terasa menikam, gelap pun dapat dengan mudah kuredam. Sungguh, kehadirannya mengubah suasana hampa tidak lagi mencengkeram.


Aku yang mengira seruanku takkan didengar Tuhan, aku yang berprasangka segala khayalku hanyalah sebatas angan, aku yang beranggapan perasaanku mustahil terungkapkan, dan aku yang selalu pasrah pada kenyataan.

Nyatanya, pintaku pada Tuhan, dijawab seluruhnya tanpa sedikit pun kekurangan.


Lamunanku yang selama ini tengah berpendar seketika membuyar. Kucoba sibak jendela hati, ruang hampa yang selama ini menanti, tengah kupersiapkan untuk sang penghuni.


Ini bukan kali pertamanya aku berjumpa dengannya, bukan pula pertama kalinya aku menikmati senyumnya. Syahdu hatiku menatap manik hitamnya, sejuk hatiku memandang manis rupanya.


Bunga-bunga tidurku tak lagi indah untuk dipejamkan, sebab bunga-bunga itu telah menjelma cahaya yang kunanti-nantikan. Tak banyak yang kuharapkan pada kehadirannya saat ini, satu pintaku pada Sang Pemilik Hati agar tetap menjadikan hati ini sebagai rumah untuk penghuni sejati.


Aku sadar selama ini, bahwasanya Tuhan bukan tidak mendengar segala pinta yang kuserukan, hanya saja Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk segala penantian yang selama ini kurindukan.


Nestapa menjadi bahagia.

Duka menjadi suka.

Luka menjadi tawa.

Kisah lama yang terulang kembali akan kurawat sampai hari tua.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...