Langsung ke konten utama

Ideopolitor - Stratak

Apa itu ideologi?

Secara etimologi menurut Moh. Suardi dalam Ideologi Politik Pendidikan Kontemporer menjelaskan, secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti "melihat". Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan suatu pemikiran atau rencana.

Kata logia mengandung makna 'ilmu pengetahuan atau teori', sedangkan kata "logis" berasal dari kata logos dari kata legein yang artinya "berbicara". Istilah ideologi dicetuskan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) saat Revolusi Prancis sebagai upaya untuk mendefinisikan sains tentang ide. Secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus dalam pikiran.

Secara terminologi menurut Karl Marx adalah kesadaran palsu karena ideologi merupakan suatu hasil pemikiran yang diciptakan oleh pemiliknya yang ditentukan oleh kepentingannya.
Sedangkan menurut Rene Descartes ideologi adalah inti atau pokok dari seluruh pemikiran manusia.
Secara garis besar ideologi adalah gagasan yang disusun secara sistematis dan diyakini kebenarannya untuk diwujudkan dalam kehidupan. Ideologi juga merupakan sejumlah doktrin, kepercayaan dan simbol-simbol sekelompok masyarakat atau bangsa menjadi pegangan dan pedoman karya (atau perjuangan) untuk mencapai tujuan masyarakat atau bangsa. Definisi ini bersumber dari Mubyanto dalam Pancasila Sebagai ideologi.
Suatu ideologi adalah gagasan atau jalan pikiran yang bertumpu pada suatu filsafat dan merupakan ciri khas suatu kelompok, memengaruhi kebudayaan keseluruhan kelompok atau bangsa, serta membentuk pranata sosial-politik bagi kelompok atau bangsa terkait. 
Keampuhan suatu ideologi bergantung pada rangkaian nilai yang dikandungnya yang dapat memenuhi serta menjamin segala aspirasi hidup dari kehidupan manusia, baik sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat. 
Perang merupakan lebih sekedar suatu urusan politik melalui cara-cara lain. Sedangkan politik adalah perang  tanpa pertumpahan darah.
Menurut Mao Tse Tsung, pengertian perang dan politik pada hakekatnya sama, yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan/maksud, cuma bentuknya beda.
Apa itu strategi?
Menurut Carl Von Clausewitz, strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan sebuah peperangan. Dan perang itu sendiri merupakan kelanjutan dari politik.
Sedangkan menurut A. Halim, strategi merupakan suatu cara di mana sebuah lembaga atau organisasi akan mencapai tujuannya sesuai peluang dan ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi serta kemampuan internal dan sumber daya.
Dari keseluruhan definisi dapat disimpulkan bahwasanya strategi adalah bagaimana menggunakan peristiwa-peristiwa politik dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan perjuangan. Dalam politik tidak dapat dibayangkan kapan ideologi akan terlaksana, karenanya strategi dalam politik tidak dapat meliputi sampai tercapainya tujuan "ideologi, karenanya hanya meliputi jangka waktu tertentu.
Mengutip kata-kata Sun Tzu yang mengatakan, strategi tanpa taktik adalah jalan paling lambat menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi adalah kebisingan sebelum kekalahan. 
Taktik adalah penggunaan kekuatan untuk memenangkan suatu pertempuran. Strategi adalah memanfaatkan pertempuran untuk mengakhiri peperangan. Taktik adalah bagaimana sikap atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa politik tertentu pada saat tertentu. 
Hubungan strategi dan taktik :
• Taktik adalah bagian dari strategi. Karenanya taktik baru tunduk mengabdi kepada strategi.
• Stratak tidaklah berdiri sendiri melainkan hanya alat pelaksana untuk mencapai tujuan ideologi. 
• Rencana perjuangan yang merupakan unsur pokok dan strategi adalah menetapkan sasaran yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu.
• Jangka waktu merupakan unsur strategi. Rencana strategi haruslah banyak memiliki sasaran alternatif. 
Ideopolistratak sebagai narasi pergerakan HmI dalam rangka perumusan dan aplikasi NDP dalam kehidupan politik dan masyarakat. 

Yakinkan dengan iman,
Usahakan dengan ilmu,
Sampaikan dengan amal.



















































Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...