Terlalu besut untuk memanen, namun tidak tahu caranya menanam.
Jalan panjang arus kehidupan telah banyak menawarkan pelbagai pilihan. Di pojok timur semakin santer terdengar rintihan. Di tengah barat tak terbendung riuhnya genderang. Utara dan selatan yang belum dijamah keegoisan.
Hal yang paling sulit di dalam hidup adalah ketika dihadapankan pada pilihan yang mana di antara pilihan itu, ada yang harus diindahkan dan ada pula yang harus dikecewakan. Sebab di dalam hidup ketika sedang berjalan, mustahil untuk melangkahkan kedua kaki secara bersamaan.
Ambisi seakan merasuk ke dalam jiwa-jiwa hampa yang luput akan kesadaran. Menyeruak bagai ombak yang mampu menenggelamkan kapal beserta awak di dalamnya.
Evolusi semakin pesat merambak tataran kehidupan ini laiknya kuda yang dipacu untuk terus berlari. Berperan utama sebagai aktor bukan hanya dituntut melakoni latar drama yang akan ditunjukkan, namun juga penting untuk memahami skenario yang diberikan.
Kita kerap menuntut hasil untuk sempurna, mengharapkan akhir yang penuh suka. Namun enggan merawat proses untuk tetap stabil pada koridor skenario yang ditetapkan.
Riuh menjelma bising yang tak dapat terelakkan. Konstelasi harus tetap terjaga di ruang pikiran. Dimensi ruang dan waktu memalingkan proses terhadap keniscayaan.
Kenyataan memang sulit untuk dialihkan, sebab bisa jadi kita sendiri yang menyebabkan kenyataan itu harus terealisasikan. Kita begitu mendambakan nikmatnya menyesapi hasil, hanya saja kita belum mampu menciptakan hasil dari orientasi ikhtiar kita.
Identitas sosial yang perlahan mulai sirna ditelan ambiguitas sektoral mengakibatkan skeptisisme di tengah persimpangan menuju entitas. Kemunculan stagnasi menjadi salah satu penyebab dari banyaknya sebab, mengapa realitas hanya sebatas lahir di dalam imajinasi.
Komentar
Posting Komentar