Nurani tak lagi berguna ketika naluri telah terpasung oleh ambisi nafsi. Memaksakan diri tanpa alas kaki untuk melewati panasnya bara api.
Kata “Tuhan” disebut ratusan hingga ribuan kali setiap hari. Namun konsep dosa tidak memiliki fungsi di hampir setiap kebijaksanaan yang menyangkut orang banyak. Naluriah manusia menjadi disfungsi akibat banyaknya dominasi yang tidak dipilah untuk dikonsumsi.
Sebuah generasi yang mewarisi malapetaka sosial ekonomi dan bencana ekologi kepada anak cucunya adalah generasi ruhani yang mabuk di atas singgasana “aku manusia”—suatu kesadaran sekuler.
Kemerdekaan yang Tuhan sematkan membuat manusia terbelenggu akan nafsu yang menjadikannya sebagai reinkarnasinya Namrud.
Dewasa ini kita kerap dipertontonkan pada banyak hal yang tidak benar yang dilakukan penguasa-penguasa manusia dalam manajemen alam semesta ini.
Sengkuni yang kita kenal dalam imajinasi ternyata bukanlah benar-benar tokoh yang fiksi. Sengkuni telah merasuk zhohir dan bathin para penguasa yang pandai memainkan akalnya yang cerdik namun sangat licik.
Kita seolah lumpuh dan stagnan pada persoalan yang seharusnya tidak menjadi urusan yang berkepanjangan. Agaknya umat manusia sekarang ini senang sekali membesarkan yang kecil, memperkecil yang besar—bahkan mengabaikan dampak buruk yang dilakukannya.
Ambisi kekuasaannya melebihi sayap-sayap malaikat yang menutupi bumi. Begitu congkaknya ketika lantang suaranya memberlakukan kebijakan yang selalu menjadi ketimpangan pada kesejahteraan. Bermodalkan sepucuk janji demi keabadian reputasi.
Berbagai cara yang dilakukan untuk menutupi kegagalannya demi sebuah eksistensi, yang menguntungkan kaum-kaum busuk oligarki.
Apakah ini cara Tuhan untuk menunjukkan siapakah sebenarnya yang munafik? Mungkinkah dengan segala kenyataan ini Tuhan telah memperlihatkan bahwa sebenarnya penguasalah sumber kegaduhan yang tak kunjung usai.
Penguasa terlalu sibuk mengurusi slogan “Buanglah sampah pada tempatnya” tetapi kenyataannya merekalah penyebab sampah-sampah itu terus menumpuk. Janjinya hanyalah sampah. Sumpah yang tak sanggup diterapkan menjadi kotoran limbah.
Terlalu sering menghadapi permasalahan menggunakan otot, hingga lupa bahwa Tuhan memberikan akal dan pikiran untuk tidak selalu menggunakan kekuatan. Karena sejatinya, kemurnian hatilah sumber ketenteraman dan keadilan.
Penguasa dibisukan oleh janji-janji, dibutakan oleh ambisi, dilumpuhkan oleh dengki.
Komentar
Posting Komentar