Ndak ada malam yang dilahap pagi. Siang pun ndak digantikan oleh petang. Begitu pun malam ndak bermaksud menggulirkan senja. Ekstase yang manusia alami tentang segala keindahan, kerap membuatnya menjadi dualisme penyembah estetika kehidupan. Terkadang rindu akan getaran musik Maha Agung, sedang di sisi lain keegoannya masih terbuai pada selain Maha Ego—yang kita tahu—ndak egoistik itu. Simbol-simbol kehidupan telah banyak mengintervensi kelahiran sunyi yang akan menembus batas pada jiwa-jiwa yang berkedok hipokrit. Antara jasad dan ruhani acap kali menjadi ajang adu domba dalam pergelutan melawan kuasa nafsi. Dengan lantas kita begitu mudah memberi warna pada secarik kertas lusuh, di tengah konstelasi selembar kertas putih mulus yang tidak sama sekali ada keberanian untuk menggoreskan sebait kalimat di dalamnya. Kita tentu bisa menjadi bebas laksana garuda yang terbang di udara, dan merdeka sambil mengepakkan sayapnya di atas cakrawala, hingga menyeruak di bentang samudra. Namun k...
Dari pencinta, untuk sang Pencipta.