Rintihan sendu yang mencekik keadaan
Disisir bising celoteh kemunafikan
Terharu di bawah lapisan hitam—kepanasan
Terhura-hura di balik kemegahan, hasil rampasan
Nestapa yang nihil dihindarkan
Telak dirasa karena moncong-moncong paksaan
Proses dari keringat basah yang bercucuran
Hanya diupahi beberapa keping recehan
Nyawa, sawah, lahan rakyat yang jadi taruhan
Dinikmati cuma-cuma oleh keparat yang penuh bualan
Bangsat, bukan?!
Senandung desah memperkosa keadilan
Sumpah suci yang diikrarkan atas nama Al Quran
Harus tercemar bagai sampah busuk yang berserakan
Gedung putih jadi tempat bersarangnya keserakahan!
Ya, asyik bersanggama di tengah krisis kesetaraan.
Akal waras yang tak pernah dibimbing
Menggong-gong kesejahteraan begitu nyaring
Gemerlap safari yang selalu dikancing
Semerbak aromanya menyengat seperti pesing
Di mana ada lahan, di situlah tempatnya kencing
Lantas, apa bedanya dengan anjing?!
Merawat peradaban dengan akal sinting
Melahirkan budaya yang mudah menuding
Yang salah bisa berpaling
Kebenaran kerap dijadikan sebagai maling
Sayur mayur tak lagi ramai dijinjing
Tanah yang subur dijual murah oleh anjing kepada asing
Rakyat menggugat dihadang kawat berjaring
Melawan aspirasi seperti singa bertaring
Di hadapan perintah, mengangguk layaknya kambing
Panorama hijau dipenuhi robot yang bising
Isi lautan yang kerap disaring
Gunung yang besar pun, mampu digunting.
Dasar anjing, suka sembarangan kalau kencing!!!
Komentar
Posting Komentar