Langsung ke konten utama

Anjing Yang Pandai Berkicau

Rintihan sendu yang mencekik keadaan
Disisir bising celoteh kemunafikan
Terharu di bawah lapisan hitam—kepanasan
Terhura-hura di balik kemegahan, hasil rampasan
Nestapa yang nihil dihindarkan
Telak dirasa karena moncong-moncong paksaan
Proses dari keringat basah yang bercucuran
Hanya diupahi beberapa keping recehan
Nyawa, sawah, lahan rakyat yang jadi taruhan
Dinikmati cuma-cuma oleh keparat yang penuh bualan
Bangsat, bukan?!
Senandung desah memperkosa keadilan
Sumpah suci yang diikrarkan atas nama Al Quran
Harus tercemar bagai sampah busuk yang berserakan
Gedung putih jadi tempat bersarangnya keserakahan!
Ya, asyik bersanggama di tengah krisis kesetaraan.


Akal waras yang tak pernah dibimbing
Menggong-gong kesejahteraan begitu nyaring
Gemerlap safari yang selalu dikancing
Semerbak aromanya menyengat seperti pesing
Di mana ada lahan, di situlah tempatnya kencing
Lantas, apa bedanya dengan anjing?!
Merawat peradaban dengan akal sinting
Melahirkan budaya yang mudah menuding
Yang salah bisa berpaling
Kebenaran kerap dijadikan sebagai maling
Sayur mayur tak lagi ramai dijinjing
Tanah yang subur dijual murah oleh anjing kepada asing
Rakyat menggugat dihadang kawat berjaring
Melawan aspirasi seperti singa bertaring
Di hadapan perintah, mengangguk layaknya kambing
Panorama hijau dipenuhi robot yang bising
Isi lautan yang kerap disaring
Gunung yang besar pun, mampu digunting.
Dasar anjing, suka sembarangan kalau kencing!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...