Betapa terpuruknya keadaan sangkar kedasih yang ditinggal pergi sang induk berdiplomasi ke kandang kerbau. Anak-anak kedasih saling merengek argumentasi lantaran pagi tadi sang induk tak meninggalkan seekor jangkrik untuk sarapan.
Berhari-hari ditinggal pergi sang induk, keadaan sangkar masih bising karena kicauan argumentasi. Kelaparan yang melanda sejak beberapa hari lalu tak lagi menjadi topik perdebatan di dalam sangkar. Kini hanya soal siapa yang kuat, ia yang akan menjadi penguasa sangkar.
Sang induk yang kesibukannya berdiplomasi di luar sangkar, tak sempat memberikan wejangan tentang kemajemukan sesama anak kedasih. Sang induk terlalu nyaman berada di luar sangkar dan berpindah dari kandang satu ke kandang lainnya. Sandiwara di dalam sangkar semakin penuh dialektika antar anak kedasih.
Martabat dan harga diri menjadi pertaruhan dalam dialektika kekuasaan. Kicauan-kicauan liar tak dapat dipasung kebisingannya. Hasrat yang tak dapat diredam kemunafikannya. Sang kedasih, harus rela kehilangan sebagian rezeki di dalam sangkarnya.
Sangkarnya menjadi sunyi tak berpenghuni dan hancur lebur tenggelam di dasar danau. Sang induk kehilangan arah entah berantah mencari tempat berteduh, berlindung dari hujan yang berkepanjangan. Nasib anak-anak kedasih yang tak jelas bagaimana, apa, dan di mana, sang induk harus pergi mencari pasangan baru untuk mengobati penyesalannya di hari lalu.
Ruang panjang yang sesak dan bising oleh narasi-narasi perencanaan masa depan, namun hanya sebatas celotehan yang tak berujung pada kepastian. Banyaknya campur tangan yang andil dalam sebuah penentuan, kesepakatan lahir berdasarkan kepentingan. Bukan untuk kemaslahatan.
Kekuasaan masih menjadi incaran dari sekelompok kedasih yang ditinggal pergi sang induk. Hasrat yang dibawanya sejak lahir memungkinkannya tetap tumbuh seiring masa. Tetapi itulah kedasih, pembunuh dari pembunuh kedasih.
Arah penantian yang tak kunjung sampai pada pucuk pengharapan, kian menanti tanpa adanya kejelasan dari apa yang selalu mereka bisingkan di dalam ruang sesak beraroma busuk kemunafikan. Kesadaran yang telah mati dilanda hasrat birahi untuk menguasai negeri.
Realitas keadaan yang tak mungkin dinafikkan ternyata belum sepenuhnya menggerakkan akal sehat yang waras. Namun yang terjadi malah makin banyaknya akal waras yang lumpuh akibat bisikan setan yang digaungkan kerap merasuk ke telinga-telinga yang juga kotor dan beraroma busuk.
Kedok hipokrit yang senantiasa mereka tampilkan menjadi alat jitu demi terealisasinya rencana bejad yang tersistematis. Hilang satu tumbuh seribu, kata pepatah. Kepintaran yang dimilikinya hanya untuk mengibuli. Sumpah yang diikrarkannya telah jauh melesat dari aturan yang telah ditetapkan. Dosa mereka, membuat rakyatnya tertatih-tatih akibat lapar yang berkepanjangan.
Lebih buas mana kedasih dengan penguasa?
Komentar
Posting Komentar