Langsung ke konten utama

Dosa Nafsu Birahi

Betapa terpuruknya keadaan sangkar kedasih yang ditinggal pergi sang induk berdiplomasi ke kandang kerbau. Anak-anak kedasih saling merengek argumentasi lantaran pagi tadi sang induk tak meninggalkan seekor jangkrik untuk sarapan.

Berhari-hari ditinggal pergi sang induk, keadaan sangkar masih bising karena kicauan argumentasi. Kelaparan yang melanda sejak beberapa hari lalu tak lagi menjadi topik perdebatan di dalam sangkar. Kini hanya soal siapa yang kuat, ia yang akan menjadi penguasa sangkar.

Sang induk yang kesibukannya berdiplomasi di luar sangkar, tak sempat memberikan wejangan tentang kemajemukan sesama anak kedasih. Sang induk terlalu nyaman berada di luar sangkar dan berpindah dari kandang satu ke kandang lainnya. Sandiwara di dalam sangkar semakin penuh dialektika antar anak kedasih.

Martabat dan harga diri menjadi pertaruhan dalam dialektika kekuasaan. Kicauan-kicauan liar tak dapat dipasung kebisingannya. Hasrat yang tak dapat diredam kemunafikannya. Sang kedasih, harus rela kehilangan sebagian rezeki di dalam sangkarnya.

Sangkarnya menjadi sunyi tak berpenghuni dan hancur lebur tenggelam di dasar danau. Sang induk kehilangan arah entah berantah mencari tempat berteduh, berlindung dari hujan yang berkepanjangan. Nasib anak-anak kedasih yang tak jelas bagaimana, apa, dan di mana, sang induk harus pergi mencari pasangan baru untuk mengobati penyesalannya di hari lalu.

Ruang panjang yang sesak dan bising oleh narasi-narasi perencanaan masa depan, namun hanya sebatas celotehan yang tak berujung pada kepastian. Banyaknya campur tangan yang andil dalam sebuah penentuan, kesepakatan lahir berdasarkan kepentingan. Bukan untuk kemaslahatan.

Kekuasaan masih menjadi incaran dari sekelompok kedasih yang ditinggal pergi sang induk. Hasrat yang dibawanya sejak lahir memungkinkannya tetap tumbuh seiring masa. Tetapi itulah kedasih, pembunuh dari pembunuh kedasih.

Arah penantian yang tak kunjung sampai pada pucuk pengharapan, kian menanti tanpa adanya kejelasan dari apa yang selalu mereka bisingkan di dalam ruang sesak beraroma busuk kemunafikan. Kesadaran yang telah mati dilanda hasrat birahi untuk menguasai negeri.

Realitas keadaan yang tak mungkin dinafikkan ternyata belum sepenuhnya menggerakkan akal sehat yang waras. Namun yang terjadi malah makin banyaknya akal waras yang lumpuh akibat bisikan setan yang digaungkan kerap merasuk ke telinga-telinga yang juga kotor dan beraroma busuk.

Kedok hipokrit yang senantiasa mereka tampilkan menjadi alat jitu demi terealisasinya rencana bejad yang tersistematis. Hilang satu tumbuh seribu, kata pepatah. Kepintaran yang dimilikinya hanya untuk mengibuli. Sumpah yang diikrarkannya telah jauh melesat dari aturan yang telah ditetapkan. Dosa mereka, membuat rakyatnya tertatih-tatih akibat lapar yang berkepanjangan.

Lebih buas mana kedasih dengan penguasa?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...