Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Terbuai hingga terbengkalai

Ada palung yang paling dalam, ada relung yang aku selam.  Perlahan tenggelam, semakin gulita, seluruhnya hitam.  Ada yang berhasil kembali ke permukaan, setelah menembus hamparan gelap untuk sampai pada palung yang paling dalam. Aku pernah tenggelam. Yang membuatku trauma serta segan untuk kembali menyelam.  Namun entah kenapa, ada sesuatu yang sangat menghendakiku untuk mencoba menyusuri relung hatinya yang paling dalam.  Bermimpi tentang aku yang pandai menyelami lautan, membuatku semakin tekad bahwa aku pun pasti mampu menyuruki hatinya. Aku tak paham bahwa setiap lautan mempunyai kedalaman yang berbeda. Pun dengan kadar rasa hatinya saat aku mulai menapaki tepiannya.  Aku yang sudah terlena dengan keindahan senja yang menyerupai senyumannya. Membuatku terlalai.  Aku khilaf, bahwa ombak yang sejak mentari pergi berkelakar, akan kembali ke tepian setibanya senja di petang hari. Tersungkur diriku.  Gulungan ombak yang menabrak diriku...

Praduga kerinduan

Definisi cinta yang sejatinya adalah saling mempercayakan.  Kau yang dahulu berpesan untuk sejenak pergi untuk sebuah cita-cita yang kau capai. Sengaja kusematkan pesan berhargamu itu, sebagai definisi cinta yang sejujurnya.  Tak kuhiraukan seberapa lama waktu yang membujur untuk kembalimu. Aku hanya yakin bahwa kau akan pulang setelah cita-cita yang kau damba sudah kau gapai. Berbekal sebuah kepercayaan, aku semakin yakin bahwa waktu akan kembali menyatukan. Aku yang selalu menyisipkan kabar untukmu, walau kau hanya sepintas menjawab kabarmu kepadaku. Aku mafhum. Mungkin kau telah meraih cita-citamu sehingga sibuk mulai meriuhkan waktumu. Selalu saja aku panjatkan bait-bait do'a yang kudengungkan di setiap sujud terendahku. Untukmu, yang semakin waktu, semakin cemas dan khawatir bersarang dalam pradugaku. Semoga saja menembus ribuan lapis penjuru langit semesta, dan sampai pada pangkuan Tuhan. Aku kembali melarikkan setiap kata yang terselip jeda. Saat sebelum kau...

Di pertengahan angan

Manusia diciptakan tidak luput dari segala kekurangan. Tapi, bukan berarti kita (manusia) untuk enggan berbagi. Seperti halnya sebuah hati. Manusia begitu murah untuk berbagi kasih, bahkan memberi cintanya dengan setulus hati. Siang menjelma petang, melukiskan jingga di ujung ufuk sebelah barat. Cakrawala kian membentang. Meronakan bias kontras dari sang senja.  Terpukau diriku atas segala suguhan semesta. Teringat kembali saat siang itu aku bertemu dengannya. Aku kembali tersihir tanpa jeda, tanpa sanggup kuseka. Terus-menerus terngiang akan dirinya. Hanya mampu celotehan yang aku lontarkan pada sang senja. Bahwasanya aku begitu ingin kembali dipertemukan dengannya, untuk sekedar menyadarkan diriku.  Lambat laun. Perlahan tapi pasti. Sang jingga izin pamit undur diri. Langit-langit kamarku seraya menjelma sebagai hamparan gemintang yang berkilau. Aku membayangkan ada wajahmu di antara rentetan Bintang-bintang. Bibirku melekuk senyum beriringan anganku yang berisikan...

Dirundung asmara

Waktu kian berputar dan terus berlarian. Membantu lekas menghilangkan perihnya luka. Duka cinta yang kandas di tengah jalan. Apa kabarkah dirinya? Bukan. Bukan dia yang telah hilang. Ini tentang dia yang menyihirku dengan tatapannya. Aku masih penasaran betul dengan dirinya saat pertama kali bertemu dengannya. Tuhan begitu adil nyatanya. Ia sengaja patahkan bunga yang sudah tak pantas digenggam, disulihkan oleh bunga-bunga baru yang sedang bermekaran. Kamu. Adalah pemulih perihku. Kamu. Pencerah piluku yang sempat kelabu. Kamu. Yang Tuhan ciptakan untuk penawar pedihnya luka masa laluku. Terima kasih Tuhan. Entah alasan apa akan menjadi jawaban pada diriku. Hingga hari-hariku begitu murah mengukir senyum yang merekah. Selepas perjumpaan diriku dengan dirinya kala itu. Aku selalu berharap pada Semesta. Semoga diriku dan dirinya dikembalikan bersua. Aku begitu yakin pada waktu. Kita pasti akan kembali bertemu. Akan aku luapkan ribuan tanya kepada dirinya. Juga, ada ban...

Sempat yang kemudian melesat.

Dalam riuh aku merindukanmu. Dalam sunyi, kau juga melupakanmu. Aku menyayangimu begitu dalam, kau mengasingiku diam-diam. Aku datangi kau dengan hati-hati, kau pergi dariku tanpa permisi—tanpa hati. Kita hanya sebatas tahu tentang cinta. Tapi kita tidak bisa lebih jauh mendalami perihal rasa.

Luka tanpa jeda.

Bias bayangmu yang masih saja mengintili. Rona tatapmu yang belum menyadarkanku dari sihirmu. Sejauh langkahku berjalan, sepanjang napas yang kuembuskan. Hatiku masih tersesat di persimpangan jalan. Ya, jalan untuk menemuimu kembali. Harus kutanyakan kepada siapa? Harus kukeluhkan kepada siapa? Perihal rasa yang tumbuh begitu cepat, lantaran perjumpaan yang begitu singkat. Keingin tahuanku tentangmu masih terus menyala. Tekadku untuk menemuimu masih saja terus membara. Inikah yang disebut nyala api asmara? Inikah yang disebut jatuh cinta? Begitu subur cinta yang tumbuh dari palung hati yang paling dalam. Tak pernah kupupuk sebelumnya. Tapi ia terus berkembang tanpa dipinta. Hebatnya cinta. Mampu membuat hati yang terjatuh bisa tergila-gila. Sebelum sejatinya cinta itu tumbuh berkembang di hati. Hatiku sempat dileburkan oleh cinta itu sendiri. Aku pernah merasakan jalinan cinta, jalinan kasih dari seseorang yang selalu memberi perhatian. Namun pada saat itu, cukup usiak...

Lantaran disihirnya, hatiku tersesat.

Hati adalah puncak berpijaknya berbagai rasa. Tempat bersinggahnya berbagai macam praduga. Namun, kita tak dapat mengetahui lebih dalam tentang isi hati seseorang. Seperti hari kemarin, tatkala dua insan yang tak saling kenal mulanya. Dihadapkan berpapasan tanpa rekayasa. Dilanda kebingungan sebab belum pernah bertatapan. Hati seraya meluapkan beribu tanya. Hati seakan tersihir oleh tatapannya yang walau hanya sesaat. Perjumpaan itu adalah awal mulanya sebuah rasa menduduki hati ini. Petang dengan lembayungnya yang hendak berpamitan. Meninggalkan bias jingganya pada semesta.  Bumi begitu lekas merotasi. Hari pun semakin kencang berlari. Namun hati, belum sepenuhnya menguakkan dengan pasti. Perihal pertemuan di beberapa hari lalu. Anganku terus terobsesi perihalnya. Ribuan pertanyaan hati yang juga belum satu pun terjawab. Harapku, begitu ingin berjumpa dengannya kembali. Langit berpijar. Hatiku terus berpendar.  Hampir satu bulan penuh hari-hariku terus dihantui ...

Kesaktian Cinta

Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan logika.  Betapa tidak? Walau raga belum saling berjumpa,  walau senyum belum seutuhnya nyata,  walau pandangan belum pernah bertatap muka.  Cinta begitu subur menumbuh. Sungguh, sukar sekali nalar ini  untuk sampai pada logika. Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan waktu.  Betapa tidak? Cinta tidak akan luput dari sebuah proses.  Begitu pun dalam menyerahkan seuntai pernyataan perihal rasa.  Menunggu balas kejelasan, yang belum tentu adanya kepastian.  Namun lagi-lagi, cinta tetap subur menumbuh.  Sungguh, begitu rela keikhlasan ini untuk menunggu sebuah waktu. Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan jarak.  Betapa tidak? Walau hati yang terpaut jauh,  jika dentingan rindu berkumandang, raga pasti akan berkelana.  Menyusuri ruang, menyibak segala sela,  dan menghantam apa pun yang menghalau. Dan, lagi-lagi,  keniscayaan itu adalah buah dari cinta yang tel...

Hujan di awal Oktober.

Rinduku menyelinap, di setiap rintik gemercikmu.  Rinduku menengadah, di tiap tetes hujanmu. Rinduku menyesap, di tiap embusan napasmu. Adalah aku, yang siap sedia; dihempaskan hujanmu,  dibenturkan anginmu, dipijakkan langkahmu. Jangan terburu-buru merebahkan sedihmu.  Sejenak, aku ingin dengar alasanmu membalas tiupan rinduku.  Walau kembalinya hadirmu,   juga membuat goresan yang menyayatku. Setidaknya,  aku tak ingin, bahkan aku pun tak sanggup,  jika melihat lekuk senyummu memudar.  Sekiranya, aku hanya ingin memastikan,  agar bahagiamu tetaplah tegar.  Walau kini bukanlah aku tempatmu bersandar .

Harapku yang sirna.

Melesatlah kau bersama angin yang berlari.  Dengan desauannya yang turut menemani. Serta iringan deru riuhnya yang akan menuntunmu pergi. Biarlah sudah nestapa ini harus terlaksana.  Walau perpisahan tak tertera dalam rencana. Bersamaan kau melangkahkan kaki bertolak pergi,  tetaplah menjurus ke arah yang ingin kau singgahi.  Sedang aku, yang dibalut hampa nan sunyi,  memberikan penawar perih di hati.  Berharap akan segera pulih kembali. Dengan rela kulakoni, walau langkah ini lamban tertatih-tatih.  Dengan ikhlas, kusemayamkan buih-buih kenangan yang pernah kita lalui.  Serta, sengaja kutanamkan benih pohon rindu,  yang akan tumbuh teriring hari-hari yang silih berganti.  Untukmu,  yang walau 'hanya sesaat—singkat' dalam setiap embusan napas ini,  dalam setiap kejapan mata ini, dalam setiap laju kaki ini.  Usah kau khawatir.  Takkan kubiarkan rasa benci menguasai diri ini.  Senantiasa,...