Indikasi-indikasi yang bermunculan di era modernisasi ini, kerap menuaikan seutas tendensi pada representasi identitas. Spontanitas yang lahir seiring banyaknya variabel integritas, kendati hanya untuk sekadar menutupi lorong penderitaan yang belum sempat terobati.
Jentera peradaban yang tak hentinya bergulir menyisakan coretan sejarah baru. Kita menampikkan sebuah ironi di tengah realitas yang menyuguhkan pelbagai pilihan. Kontaminasi melahirkan distorsi dalam catatan identitas sosial, yang seakan turut menghadirkan eksistensinya agar tak lekang seiring peradaban yang semakin lanjut usia.
Hegemoni telah banyak merampas jiwa-jiwa di tengah pencariannya yang masih dalam tahap penentuan arah. Dilematisasi terus menghantui perjalanan sunyi antara pikiran dan hati, sebab di dalam keputusan keduanya sama-sama melahirkan konsekuensi. Belum lagi skeptisisme yang menjadi persoalan ketika sudah benar-benar matang mengambil sebuah keputusan.
Lika-liku tak mungkin terlepas dalam proses mencari dan membentuk jati diri yang sesungguhnya. Hanya saja terkadang kita sering melupakan substansi dalam pencarian tersebut. Kita sering terjebak dalam romantisme peradaban yang membuat nyaman hingga terlena akan suguhan aneka ragam warnanya.
Konsep identitas pada dewasa ini terlihat hanya sekadar simbol-simbol eksistensi namun sama sekali tak terdapat nilai-nilai esensi. Hiruk pikuk tantangan zaman yang semakin hari semakin bermacam-macam wujud interpretasinya, kadang kala membuat kita sulit menafsirkan laju derasnya arus peradaban modern.
Kita terlalu sibuk membuat aliran untuk lajunya objek modernisasi, namun seakan abai untuk menciptakan subjek yang akan menyeimbangi derasnya peradaban mutakhir ini supaya tidak hanya menjadi penikmat suguhan modernisasi tapi juga turut berperan di dalamnya.
Keberlangsungan hidup akan terus menjadi saksi di masa-masa yang akan datang. Seperti sejarah yang kita pelajar saat ini, bagaimana di masa-masa terdahulu masih banyak ketidak siapan dalam menjamu perubahan. Dan sudah seharusnya kita banyak mengambil pelajaran agar kesiapannya lebih matang untuk lahirnya masa yang akan datang.
Menjadikan diri sebagai identitas sosial jangan terlalu mengharapkan warisan dari persoalan-persoalan sosial. Sebab terlena hanya pada satu warna, membuat kita lupa bahwasanya pelangi memilliki banyak warna yang juga perlu dilihat keberadaannya.
Komentar
Posting Komentar