Langsung ke konten utama

Apa dan Siapakah Deraka?

Kemacetan panjang lalu lintas birokrasi
Riuh di lajur kanan oleh iring-iringan kaum berdasi
Seraya menghambat tujuan kaum-kaum madani
Protes demi protes mulai bersahutan di sana-sini
Bisingnya desibel sirine yang tak henti-henti Disusul laju kecepatannya yang teramat tinggi
Membuyarkan konstelasi pembahasan Ibu Pertiwi
Hingga melebihi suara azan di masjid Al Islami.

Konsep hukum bukan lagi soal haram-halal
Kesejahteraan tidak lagi bersifat substansial
Barang siapa yang menghamba pada tuhan feodal
Niscaya hukum tidak akan mempan alias kebal
Ambisi melumpuhkan kesehatan akal
Di balik suara yang berada di dalam kardus abal-abal
Yang banyak melahirkan ihwal kontroversial
Ekualisasi diperkosa hasrat yang tak lagi bermoral
Kedaulatan menjadi barang pokok yang kerap dijual
Agar saku tetap terisi oleh kucuran modal. HAHAHA, LICIK SEKALI KAU, DAJJAL!!!

Wajah-wajah hipokrit semakin terlihat nyata
Lantaran sering lupa menutupi kedunguannya
Gedung putih tak lagi suci seperti warnanya Sajian Intervensi yang dilahap tanpa menapisnya
Hingga lupa, bahwa tempe kaya akan proteinnya
Kegiatannya kerap menanam sawit dari Aceh — Papua
Tapi mengapa, kini pasar sepi pembeli lantaran minyak goreng tak lagi tersedia
Belum lagi banyaknya persoalan yang menyangkut tentang
Agama Padahal, masing-masing jabatan sudah ada tupoksinya
Ahh! Betapa banyaknya orang pintar di Negeri berjuluk Macan Asia
Namun sikap dan kebijakannya bak Serigala berbulu Domba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...