Langkah kaki yang tergontai di atas cakrawala Terbiaskan bentang sayapnya dalam pelukan senja. Embusan talkin hanya sekedar bisingan formalitas Mukadimah bersuar di hadapan hiruk pikuk yang melintas Menerjang ansar dalam kepalan yang begitu buas Tak terelakkan dengkinya celotehan komoditas Tujuan tetaplah tujuan, meski tak tersedianya panggung pentas. Nyanyian bajik dilenyapkan oleh bantahan lantang Fitrah kelahiran tercemar akan praktis yang menantang Keistimewaan tajuk tak lebih mulia di antara kangkang Egosentrisme melampaui batas norma yang melarang Buta tak mendengar, tuli bersulang dan berdendang. Sulam menyulam menjadi satu; syairnya sangat merdu Diharuskan terpontang-panting akan riuhnya undangan tamu Inikah warisan yang diserukan dahulu? Konsensus digoyahkan pada sebersit cakap yang dijamu Tak lagi diramu, kekonyolan telak dirasa dengan senyuman dungu. Pertanggungjawaban atas kesepakatan hanya menjadi bualan Kemaslahatan dinodai dalih mengatasnamakan “kemanusiaan” Diskursus di...
Dari pencinta, untuk sang Pencipta.