Akankah yang kelam kembali tersulam?
Apakah masih tersedia rintik-rintik tangis,
padahal hati begitu teriris tatkala menoleh pada masa lalu yang amat tragis?
Duka masih sanggup untuk diseka,
namun luka pasti akan terus membekas.
Meski kadang terngiang dalam bias.
Sudah cukup riuh dengan segala persoalan-persoalan ini.
Tidak pernah ada jawaban dari segala yang dipermasalahkan.
Selalu aja ada timbul persoalan baru.
Perundingan hanya sebuah penenang untuk melompat pada soal berikutnya.
Berapa banyak sudah konsep yang dirancang,
ide yang digagas, serta saran yang dimasukan.
Lagi dan lagi, kenyataan selalu mematahkan kokohnya harapan.
Kita ini sedang belajar merangkak untuk realitas keadilan yang sesungguhnya. Berbagai perubahan yang telah disahkan dalam perjalanannya belum benar-benar sampai pada tujuannya.
Selalu saja ada kendala yang menghambat untuk tegap berdiri menegakkan keadilan yang sesungguhnya.
Agaknya, kita harus kembali belajar menulis di atas lembar-lembar kertas. Sebab bersuara dalam kicauan di dinding media sosial, sangat mudah untuk diretas.
Iri dan dengki tak pernah luput dalam diri manusia.
Kaki memukul, tangan menyikut, serta mulut yang tak pernah kehabisan kosakata untuk lugasnya menyinyir.
Komentar
Posting Komentar