Langsung ke konten utama

Mengakhiri Tanpa Memulai.


Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan.


Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin.


Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan.


Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta.


Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati.


Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstui. Bukan pula persoalan yang sepele ketika benih-benih cinta yang kembali tumbuh seiring waktu yang kulalui. Sebab, aku sudah berjanji pada diriku sendiri ketika aku telah kembali menghadirkan cinta di dalam hati, maka tujuan berlabuhnya cinta tersebut adalah pelabuhan yang abadi.


Tak pernah diharap sebelumnya,
Tak pernah diingin kembalinya,
Namun hadirnya kini sungguh menimbulkan banyak tanda tanya.


Dilema di ruang sunyi yang seakan bising karena nyatanya benih-benih yang telah lama kulupakan, tumbuh bermekaran tanpa kesengajaan.


Inikah yang disebut cinta lama bersemi kembali?
Ah, tahu apa aku saat ini soal cinta?
Bahkan untuk sekedar jatuh hati saja, aku hampir lupa bagaimana rasanya?
Kecuali untuk seseorang!


Sampai detik ini pun, aku masih tak mampu menghapus segala tentangnya meskipun telah lama dirinya pergi mengosongkan relung hatiku.


Kini ruang sunyi yang telah lama tak berpenghuni, yang begitu banyak menyimpan segala kenangan di dalamnya, hanya menyisakan ingatan di masa lalu ketika aku kembali menarik jendela rindu yang tertutup debu.


Sekuat ombak ingatanku menarik kenangan di masa lalu, selemah itu diriku terseret oleh warna-warni pesonamu.


Kesalahan terbesarku adalah, menyiapkan ruang hatiku hanya untuk dirimu.
Bodohnya diriku, tak pernah mau mengenal nama selain namamu.


Di mana kau kini?
Bisakah kau kembali?
Aku rindu.


Pada senja yang hadir menyapa, bahagiaku cukup sederhana; berada di sebelahmu sepanjang kau asyik menuturkan cerita.


Tabir yang selama ini aku dirikan di ruang hatiku, runtuh begitu saja. Semuanya lebur hanya karena kehadiran cinta yang dulu sangat aku damba. Pancaran cahaya yang merasuk ke relung hatiku membuat kegelapan di dalamnya seketika sirna. Ya, segala tentangmu kini telah menguasai di tiap rongga hati.


Aku kalah!
Aku lemah!
Pada cintamu yang kini kembali meruah.


Entah sudah berapa purnama yang aku lalui, entah sudah berapa senja yang aku nikmati. Padamu, hatiku tetap memilih namamu sebagai pemenangnya di relung hati. Itulah sebabnya mengapa bertahun-tahun hatiku terpenjara dalam sunyi. Lantaran cintamu yang belum seluruhnya aku biarkan pergi.


Aku tunduk!
Aku takluk!
Oleh panah cintamu yang menusuk.


Aku yang kini mulai merasa bising pada kesunyian di waktu malam. Belum lagi soal rindumu yang selalu hadir pada saat temaram. Padahal, berjumpa denganmu hampir di tiap senja yang akan tenggelam. Kupertaruhkan mataku agar tetap terjaga hingga bias purnama padam. Menanggung perih yang kurasa akibat rindumu yang semakin menikam. Walau sebenarnya raga kita belum pasti saling erat menggenggam.


Biarlah nestapa ini kuterima dengan telak.
Walau permasalahan sesungguhnya bukanlah perihal jarak.


Dalam kurun waktu tujuh tahun lamanya, kubiarkan hatiku mengembara sepanjang hampa jiwaku yang ditelan kesendirian tanpa arah dan tujuan. Sayup-sayup kumendengar bahwa dirimu tengah dikepung oleh kesedihan. Rasa sesal bercampur kesal atas kejadian kala itu, saling beradu di zona pikiran. Walau hati bersikeras untuk tetap memaksakan, namun realita menuntut kita untuk saling berjauhan. Bukannya aku tak mau mengusahakan, sebab hakikat tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan.
Sejauh mana pun hati ini kupaksa berlari, namamu selalu menyeretku untuk kembali.
Entah aku yang terlalu percaya diri, atau mungkin dirimu yang masih dibalut gengsi. Aku tahu dirimu masih membutuhkan waktu untuk sekedar memberi jeda pada lara hatimu. Duka yang baru saja kau terima sejak patah hati pada beberapa waktu lalu. Namun, salahkah jika aku kembali menyematkan rasa ini kepadamu? Walau aku tak tahu pasti apakah dirimu masih menerima kehadiranku, atau mungkin menanti kembali kekasih baru.


Sederhana saja; aku mencintaimu layaknya daun yang berguguran di musim semi, merindukanmu seperti hujan yang jatuh berkali-kali.

Maafkan aku jika belum mampu melupakanmu.
Maafkan aku jika namamu masih tersemat di hatiku.
Maafkan aku, jikalau segala tentangmu, aku ceritakan kepada Tuhanku.


Ingatlah;

Ada rasa yang selalu merapal dengan pasrah,
Ada rindu yang selalu menanti dengan tabah,
Ada ruang yang selalu tertata dengan indah,
Segalanya aku persiapkan untuk dirimu agar sudi bersinggah,
Walau kutahu, cintamu kini sudah berganti arah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...