Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur.
Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur.
Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan.
Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan.
Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan.
Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan.
Kehadirannya tanpa secarik suratan,
Kuterima dengan senyuman.
Kehadirannya tanpa pernah diduga,
Kuterima dengan lapang dada.
Kehadirannya mengundang ribuan tanya,
Kepergiannya tanpa alasan yang nyata.
Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya.
Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara.
Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan.
Merawat hangat di tengah badai keambiguan.
Haruskah aku akhiri saja penantian ini?
Perihal asa yang tak sedikit pun dihargai.
Bicara soal raga yang sudah letih, seruan hati yang terus meringkih; salahkah jikalau aku mengharapkan pamrih?
Senja yang sangat aku puja karena keindahan ronanya berubah menjadi gelap yang yang begitu mencekam. Bukan karena mendung yang menggantikan posisinya di kala sore itu, tapi deburan kekecewaan yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran. Semua yang terlihat menawan seakan berubah karena harapku yang selalu aku sematkan, diabaikan olehmu begitu saja tanpa sepatah kata pun sebagai jawaban.
Aku tak pernah menyangka jika berurusan dengan perasaan yang teramat dalam, harus menanggung pula perih yang begitu menikam. Cinta memang tak akan pernah lepas dari dua hal; kebahagiaan dan kesedihan. Jika dua hal tersebut selalu bersanding di balik kata cinta, mengapa hanya kesedihan yang terus-menerus aku dapatkan? Di mana letak kebahagiaan cinta yang semestinya juga dapat aku rasakan? Apakah memang hatiku tercipta hanya untuk menanggung segala nelangsa yang disebabkan oleh rasa cinta?
Selapang Bumi yang setia di guyur hujan, seluas samudra yang membentangi lautan; hatiku, tak mampu menolak jika harus menjumpai kesedihan. Perihal perasaan.
Pelbagai nestapa yang pernah aku rawat, perihal cinta yang tak pernah tertambat. Perlahan hatiku mafhum dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi karena melibatkan perasaan. Ya, memang demikian kenyataannya. Ketika kita berani untuk jatuh cinta, maka kita juga harus siap untuk menanggung sakitnya.
Malam masih menjadi waktu yang setia untuk curahan rindu yang kerap terabaikan. Aku tak tahu di mana kini alamat hatimu. Keheningan yang sempat melanda jarak kerinduan di antara kita, membuatku sulit pada siapa lagi harus kutitipkan sepucuk rindu dan segenap rasa yang masih kugenggam. Kabar yang kudengar, bahwa kini hatimu tak lagi berpenghuni. Intuisiku berkata, mungkin kau sedang sejenak mengobati lara hatimu dari luka yang baru saja kau dapatkan. Aku mafhum.
Untukmu, yang entah kini di mana keberadaanmu; aku titipkan rindu ini pada gemerlapnya gemintang, aku sematkan segenap cinta ini pada kilauan jingga di kala senja. Tujuanku sederhana. agar rindu yang aku titip dapat kau tatap sebelum terlelap, cinta yang aku semat bisa kau lihat sebelum lelahmu beristirahat. Tambatlah jika kau sudi.
Komentar
Posting Komentar