Langsung ke konten utama

Dilema Moral.

Berangkat sudah menjauhi kabut asap kejahilan yang membuat gelap pandangan. Terbebaskan diri dari jeratan rantai kenakalan.
Melesat begitu cepat seiring berputarnya roda kehidupan.

Dunia yang sejatinya hanyalah sebuah perbekalan,
namun oleh sekumpulan manusia hendak dijadikan klaster keabadian.

Bermodalkan akun media sosial, siaran di semua stasiun televisi, serta pengumuman di papan baliho yang terpampang di segala persimpangan jalan.

Manusia begitu besut mewujudkan hasrat egosentrismenya.
Memerankan akalnya ketimbang perasaannya.

Menghidupkan dunia untuk kepuasan,
dan lupa memanfaatkan dunia untuk kehidupan.

Peradaban terus melahirkan generasi-generasinya, seakan roda zaman dipacu untuk semakin cepat melaju. Menggilas yang di hadapannya, menabrak apa saja yang ada di depannya.

Kejam, sadis. Namun, manusia semakin nyaman untuk tetap berada di jalur peradaban modern. Mengikuti kencangnya roda kehidupan, tanpa mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Yang mereka pikirkan hanya ketakutan karena tidak turut berada dalam perkembangan zaman. Begitu mudahnya mereka dirayu oleh kemunafikan peradaban. Dan sebagian lainnya, hanya tunduk termenung menyaksikan riuhnya peradaban yang sedang kencang-kencangnya menggilas kedamaian kehidupan. 

Memilih untuk ikut, atau mundur untuk memperbaiki sisa-sisa kekejaman para penunggang peradaban. Demi ketenteraman generasi di kemudian hari. Namun, dilema terus menghantui pikiran dan akal mereka. Hingga kerusakan terus terjadi menyisakan kepiluan.

Yang lugu, semakin diperbodohkan. Yang licik, semakin asyik memainkan akalnya yang licik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...