Berangkat sudah menjauhi kabut asap kejahilan yang membuat gelap pandangan. Terbebaskan diri dari jeratan rantai kenakalan.
Melesat begitu cepat seiring berputarnya roda kehidupan.
Dunia yang sejatinya hanyalah sebuah perbekalan,
namun oleh sekumpulan manusia hendak dijadikan klaster keabadian.
Bermodalkan akun media sosial, siaran di semua stasiun televisi, serta pengumuman di papan baliho yang terpampang di segala persimpangan jalan.
Manusia begitu besut mewujudkan hasrat egosentrismenya.
Memerankan akalnya ketimbang perasaannya.
Menghidupkan dunia untuk kepuasan,
dan lupa memanfaatkan dunia untuk kehidupan.
Peradaban terus melahirkan generasi-generasinya, seakan roda zaman dipacu untuk semakin cepat melaju. Menggilas yang di hadapannya, menabrak apa saja yang ada di depannya.
Kejam, sadis.
Namun, manusia semakin nyaman untuk tetap berada di jalur peradaban modern. Mengikuti kencangnya roda kehidupan, tanpa mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Yang mereka pikirkan hanya ketakutan karena tidak turut berada dalam perkembangan zaman. Begitu mudahnya mereka dirayu oleh kemunafikan peradaban. Dan sebagian lainnya, hanya tunduk termenung menyaksikan riuhnya peradaban yang sedang kencang-kencangnya menggilas kedamaian kehidupan.
Memilih untuk ikut, atau mundur untuk memperbaiki sisa-sisa kekejaman para penunggang peradaban. Demi ketenteraman generasi di kemudian hari. Namun, dilema terus menghantui pikiran dan akal mereka. Hingga kerusakan terus terjadi menyisakan kepiluan.
Yang lugu, semakin diperbodohkan. Yang licik, semakin asyik memainkan akalnya yang licik.
Komentar
Posting Komentar