Bias bayangmu yang masih saja mengintili. Rona tatapmu yang belum menyadarkanku dari sihirmu.
Sejauh langkahku berjalan, sepanjang napas yang kuembuskan. Hatiku masih tersesat di persimpangan jalan. Ya, jalan untuk menemuimu kembali.
Harus kutanyakan kepada siapa?
Harus kukeluhkan kepada siapa?
Perihal rasa yang tumbuh begitu cepat, lantaran perjumpaan yang begitu singkat.
Keingin tahuanku tentangmu masih terus menyala. Tekadku untuk menemuimu masih saja terus membara.
Inikah yang disebut nyala api asmara?
Inikah yang disebut jatuh cinta?
Begitu subur cinta yang tumbuh dari palung hati yang paling dalam. Tak pernah kupupuk sebelumnya. Tapi ia terus berkembang tanpa dipinta. Hebatnya cinta. Mampu membuat hati yang terjatuh bisa tergila-gila.
Sebelum sejatinya cinta itu tumbuh berkembang di hati. Hatiku sempat dileburkan oleh cinta itu sendiri.
Aku pernah merasakan jalinan cinta, jalinan kasih dari seseorang yang selalu memberi perhatian. Namun pada saat itu, cukup usiaku masih terlalu dini untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Aku hanya sebatas mencinta berkadar dari tumbuh kembangnya usia remaja. Istilah itu biasa familiar orang katakan adalah cinta monyet.
Sialnya.
Cinta pertamaku di kala remaja, harus terbengkalai sia-sia. Untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, dan juga, aku harus lenyap oleh kobaran api asmara.
Jatuh cinta itu nikmat.
Jatuh hati itu khidmat.
Jatuh cinta dan jatuh hati, juga bisa berkhianat.
Hatiku saraya diremukkan begitu sengaja. Walau sempat ia taruh rasa ini di bingkai hari-harinya.
Aku kira, cinta yang berawal tulus akan selalu berpijar mulus. Nyatanya, aku keliru. Sebab, pada saat itu aku belum sepenuhnya mengenal makna dari sebuah ikatan cinta.
Aku terlalu erat menggenggam mawar yang tengah bermekar-mekarnya. Sampai aku tak sadar bahwa duri-duri yang melekat pada tangkainya, menusuk telapak serta jemariku. Menetes rintik-rintik darah. Hingga terlepas setangkai mawar itu. Kuseka darah yang mengalir di tanganku. Tanpa kusadari kembali, mawar yang terjatuh dari tanganku, seketika beralih ke genggaman orang lain. Nahas.
Bukan hanya telapak dan jemariku yang berkucuran darah. Hatiku pun ikut melumer nanah. Hancur seketika, lebur semua kisah tentang kita. Tentang aku dan kamu yang sempat menjadi kita.
Kau begitu lekas mengambil persepsi dengan kiasan sebuah dalih. Lantaran tak sengaja kujatuhkan setangkai mawar. Kau begitu lekas bersanding dengan seseorang yang baru kau kenal tanpa tawar menawar.
Pergi begitu saja meninggalkan aku seorang yang di tepi jalan. Layaknya sampah yang selalu diabaikan.
Pertama kalinya aku merasakan cinta yang begitu kasih, lalu menjadi luka yang teramat perih.
Cinta begitu tega. Menikam tajam ke dalam dada, menimbulkan luka tanpa jeda.
Sejauh langkahku berjalan, sepanjang napas yang kuembuskan. Hatiku masih tersesat di persimpangan jalan. Ya, jalan untuk menemuimu kembali.
Harus kutanyakan kepada siapa?
Harus kukeluhkan kepada siapa?
Perihal rasa yang tumbuh begitu cepat, lantaran perjumpaan yang begitu singkat.
Keingin tahuanku tentangmu masih terus menyala. Tekadku untuk menemuimu masih saja terus membara.
Inikah yang disebut nyala api asmara?
Inikah yang disebut jatuh cinta?
Begitu subur cinta yang tumbuh dari palung hati yang paling dalam. Tak pernah kupupuk sebelumnya. Tapi ia terus berkembang tanpa dipinta. Hebatnya cinta. Mampu membuat hati yang terjatuh bisa tergila-gila.
Sebelum sejatinya cinta itu tumbuh berkembang di hati. Hatiku sempat dileburkan oleh cinta itu sendiri.
Aku pernah merasakan jalinan cinta, jalinan kasih dari seseorang yang selalu memberi perhatian. Namun pada saat itu, cukup usiaku masih terlalu dini untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Aku hanya sebatas mencinta berkadar dari tumbuh kembangnya usia remaja. Istilah itu biasa familiar orang katakan adalah cinta monyet.
Sialnya.
Cinta pertamaku di kala remaja, harus terbengkalai sia-sia. Untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, dan juga, aku harus lenyap oleh kobaran api asmara.
Jatuh cinta itu nikmat.
Jatuh hati itu khidmat.
Jatuh cinta dan jatuh hati, juga bisa berkhianat.
Hatiku saraya diremukkan begitu sengaja. Walau sempat ia taruh rasa ini di bingkai hari-harinya.
Aku kira, cinta yang berawal tulus akan selalu berpijar mulus. Nyatanya, aku keliru. Sebab, pada saat itu aku belum sepenuhnya mengenal makna dari sebuah ikatan cinta.
Aku terlalu erat menggenggam mawar yang tengah bermekar-mekarnya. Sampai aku tak sadar bahwa duri-duri yang melekat pada tangkainya, menusuk telapak serta jemariku. Menetes rintik-rintik darah. Hingga terlepas setangkai mawar itu. Kuseka darah yang mengalir di tanganku. Tanpa kusadari kembali, mawar yang terjatuh dari tanganku, seketika beralih ke genggaman orang lain. Nahas.
Bukan hanya telapak dan jemariku yang berkucuran darah. Hatiku pun ikut melumer nanah. Hancur seketika, lebur semua kisah tentang kita. Tentang aku dan kamu yang sempat menjadi kita.
Kau begitu lekas mengambil persepsi dengan kiasan sebuah dalih. Lantaran tak sengaja kujatuhkan setangkai mawar. Kau begitu lekas bersanding dengan seseorang yang baru kau kenal tanpa tawar menawar.
Pergi begitu saja meninggalkan aku seorang yang di tepi jalan. Layaknya sampah yang selalu diabaikan.
Pertama kalinya aku merasakan cinta yang begitu kasih, lalu menjadi luka yang teramat perih.
Cinta begitu tega. Menikam tajam ke dalam dada, menimbulkan luka tanpa jeda.
Komentar
Posting Komentar