Langsung ke konten utama

Luka tanpa jeda.

Bias bayangmu yang masih saja mengintili. Rona tatapmu yang belum menyadarkanku dari sihirmu.

Sejauh langkahku berjalan, sepanjang napas yang kuembuskan. Hatiku masih tersesat di persimpangan jalan. Ya, jalan untuk menemuimu kembali.

Harus kutanyakan kepada siapa?
Harus kukeluhkan kepada siapa?
Perihal rasa yang tumbuh begitu cepat, lantaran perjumpaan yang begitu singkat.

Keingin tahuanku tentangmu masih terus menyala. Tekadku untuk menemuimu masih saja terus membara.

Inikah yang disebut nyala api asmara?
Inikah yang disebut jatuh cinta?

Begitu subur cinta yang tumbuh dari palung hati yang paling dalam. Tak pernah kupupuk sebelumnya. Tapi ia terus berkembang tanpa dipinta. Hebatnya cinta. Mampu membuat hati yang terjatuh bisa tergila-gila.

Sebelum sejatinya cinta itu tumbuh berkembang di hati. Hatiku sempat dileburkan oleh cinta itu sendiri.

Aku pernah merasakan jalinan cinta, jalinan kasih dari seseorang yang selalu memberi perhatian. Namun pada saat itu, cukup usiaku masih terlalu dini untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Aku hanya sebatas mencinta berkadar dari tumbuh kembangnya usia remaja. Istilah itu biasa familiar orang katakan adalah cinta monyet.

Sialnya.
Cinta pertamaku di kala remaja, harus terbengkalai sia-sia. Untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, dan juga, aku harus lenyap oleh kobaran api asmara.

Jatuh cinta itu nikmat.
Jatuh hati itu khidmat.
Jatuh cinta dan jatuh hati, juga bisa berkhianat.

Hatiku saraya diremukkan begitu sengaja. Walau sempat ia taruh rasa ini di bingkai hari-harinya.

Aku kira, cinta yang berawal tulus akan selalu berpijar mulus. Nyatanya, aku keliru. Sebab, pada saat itu aku belum sepenuhnya mengenal makna dari sebuah ikatan cinta.

Aku terlalu erat menggenggam mawar yang tengah bermekar-mekarnya. Sampai aku tak sadar bahwa duri-duri yang melekat pada tangkainya, menusuk telapak serta jemariku. Menetes rintik-rintik darah. Hingga terlepas setangkai mawar itu. Kuseka darah yang mengalir di tanganku. Tanpa kusadari kembali, mawar yang terjatuh dari tanganku, seketika beralih ke genggaman orang lain. Nahas.

Bukan hanya telapak dan jemariku yang berkucuran darah. Hatiku pun ikut melumer nanah. Hancur seketika, lebur semua kisah tentang kita. Tentang aku dan kamu yang sempat menjadi kita.

Kau begitu lekas mengambil persepsi dengan kiasan sebuah dalih. Lantaran tak sengaja kujatuhkan setangkai mawar. Kau begitu lekas bersanding dengan seseorang yang baru kau kenal tanpa tawar menawar.

Pergi begitu saja meninggalkan aku seorang yang di tepi jalan. Layaknya sampah yang selalu diabaikan.

Pertama kalinya aku merasakan cinta yang begitu kasih, lalu menjadi luka yang teramat perih.

Cinta begitu tega. Menikam tajam ke dalam dada, menimbulkan luka tanpa jeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...