Manusia diciptakan tidak luput dari segala kekurangan. Tapi, bukan berarti kita (manusia) untuk enggan berbagi. Seperti halnya sebuah hati. Manusia begitu murah untuk berbagi kasih, bahkan memberi cintanya dengan setulus hati.
Siang menjelma petang, melukiskan jingga di ujung ufuk sebelah barat. Cakrawala kian membentang. Meronakan bias kontras dari sang senja.
Terpukau diriku atas segala suguhan semesta. Teringat kembali saat siang itu aku bertemu dengannya. Aku kembali tersihir tanpa jeda, tanpa sanggup kuseka. Terus-menerus terngiang akan dirinya. Hanya mampu celotehan yang aku lontarkan pada sang senja. Bahwasanya aku begitu ingin kembali dipertemukan dengannya, untuk sekedar menyadarkan diriku.
Lambat laun.
Perlahan tapi pasti.
Sang jingga izin pamit undur diri.
Langit-langit kamarku seraya menjelma sebagai hamparan gemintang yang berkilau. Aku membayangkan ada wajahmu di antara rentetan Bintang-bintang. Bibirku melekuk senyum beriringan anganku yang berisikan tentangnya. Berharap pada semesta, agar bunga tidurku dihadirkan sosok dirinya.
Betapa bahagianya aku jika Tuhan menjadikan nyata atas segala semoga yang aku aamiinkan di setiap do'a yang aku panjatkan.
Terkadang aku sering cemburu pada Purnama yang senantiasa disandingkan oleh gugusan Gemintang. Tidak banyak harap yang aku inginkan. Aku hanya ingin segera kembali dipertemukan dengannya. Seperti Bulan yang selalu dijumpakan oleh Bintang-bintang. Setidaknya, aku juga ingin merasakan kehangatan berbagi kisah dan kasih. Bukan menuntut semesta untuk segera mengabulkan hajatku. Aku hanya ingin sebuah penawar jatuh hati.
Hatiku memang mudah tersipu. Walau hanya sesaat bertemu, hatiku telah jatuh pada tatapannya. Semakin ingin kukenal dengannya, semakin tumbuh rasa di hatiku. Aku tak hiraukan kalau hatiku sedang masa perbaikan.
Siang menjelma petang, melukiskan jingga di ujung ufuk sebelah barat. Cakrawala kian membentang. Meronakan bias kontras dari sang senja.
Terpukau diriku atas segala suguhan semesta. Teringat kembali saat siang itu aku bertemu dengannya. Aku kembali tersihir tanpa jeda, tanpa sanggup kuseka. Terus-menerus terngiang akan dirinya. Hanya mampu celotehan yang aku lontarkan pada sang senja. Bahwasanya aku begitu ingin kembali dipertemukan dengannya, untuk sekedar menyadarkan diriku.
Lambat laun.
Perlahan tapi pasti.
Sang jingga izin pamit undur diri.
Langit-langit kamarku seraya menjelma sebagai hamparan gemintang yang berkilau. Aku membayangkan ada wajahmu di antara rentetan Bintang-bintang. Bibirku melekuk senyum beriringan anganku yang berisikan tentangnya. Berharap pada semesta, agar bunga tidurku dihadirkan sosok dirinya.
Betapa bahagianya aku jika Tuhan menjadikan nyata atas segala semoga yang aku aamiinkan di setiap do'a yang aku panjatkan.
Terkadang aku sering cemburu pada Purnama yang senantiasa disandingkan oleh gugusan Gemintang. Tidak banyak harap yang aku inginkan. Aku hanya ingin segera kembali dipertemukan dengannya. Seperti Bulan yang selalu dijumpakan oleh Bintang-bintang. Setidaknya, aku juga ingin merasakan kehangatan berbagi kisah dan kasih. Bukan menuntut semesta untuk segera mengabulkan hajatku. Aku hanya ingin sebuah penawar jatuh hati.
Hatiku memang mudah tersipu. Walau hanya sesaat bertemu, hatiku telah jatuh pada tatapannya. Semakin ingin kukenal dengannya, semakin tumbuh rasa di hatiku. Aku tak hiraukan kalau hatiku sedang masa perbaikan.
Komentar
Posting Komentar