Langsung ke konten utama

Di pertengahan angan

Manusia diciptakan tidak luput dari segala kekurangan. Tapi, bukan berarti kita (manusia) untuk enggan berbagi. Seperti halnya sebuah hati. Manusia begitu murah untuk berbagi kasih, bahkan memberi cintanya dengan setulus hati.

Siang menjelma petang, melukiskan jingga di ujung ufuk sebelah barat. Cakrawala kian membentang. Meronakan bias kontras dari sang senja. 

Terpukau diriku atas segala suguhan semesta. Teringat kembali saat siang itu aku bertemu dengannya. Aku kembali tersihir tanpa jeda, tanpa sanggup kuseka. Terus-menerus terngiang akan dirinya. Hanya mampu celotehan yang aku lontarkan pada sang senja. Bahwasanya aku begitu ingin kembali dipertemukan dengannya, untuk sekedar menyadarkan diriku. 

Lambat laun.
Perlahan tapi pasti.
Sang jingga izin pamit undur diri.

Langit-langit kamarku seraya menjelma sebagai hamparan gemintang yang berkilau. Aku membayangkan ada wajahmu di antara rentetan Bintang-bintang. Bibirku melekuk senyum beriringan anganku yang berisikan tentangnya. Berharap pada semesta, agar bunga tidurku dihadirkan sosok dirinya. 

Betapa bahagianya aku jika Tuhan menjadikan nyata atas segala semoga yang aku aamiinkan di setiap do'a yang aku panjatkan. 

Terkadang aku sering cemburu pada Purnama yang senantiasa disandingkan oleh gugusan Gemintang. Tidak banyak harap yang aku inginkan. Aku hanya ingin segera kembali dipertemukan dengannya. Seperti Bulan yang selalu dijumpakan oleh Bintang-bintang. Setidaknya, aku juga ingin merasakan kehangatan berbagi kisah dan kasih. Bukan menuntut semesta untuk segera mengabulkan hajatku. Aku hanya ingin sebuah penawar jatuh hati. 

Hatiku memang mudah tersipu. Walau hanya sesaat bertemu, hatiku telah jatuh pada tatapannya. Semakin ingin kukenal dengannya, semakin tumbuh rasa di hatiku. Aku tak hiraukan kalau hatiku sedang masa perbaikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...