Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan logika. Betapa tidak? Walau raga belum saling berjumpa, walau senyum belum seutuhnya nyata, walau pandangan belum pernah bertatap muka. Cinta begitu subur menumbuh. Sungguh, sukar sekali nalar ini untuk sampai pada logika.
Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan waktu. Betapa tidak? Cinta tidak akan luput dari sebuah proses. Begitu pun dalam menyerahkan seuntai pernyataan perihal rasa. Menunggu balas kejelasan, yang belum tentu adanya kepastian. Namun lagi-lagi, cinta tetap subur menumbuh. Sungguh, begitu rela keikhlasan ini untuk menunggu sebuah waktu.
Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan jarak. Betapa tidak? Walau hati yang terpaut jauh, jika dentingan rindu berkumandang, raga pasti akan berkelana. Menyusuri ruang, menyibak segala sela, dan menghantam apa pun yang menghalau. Dan, lagi-lagi, keniscayaan itu adalah buah dari cinta yang telah tumbuh meruah. Sungguh, langkah begitu bijaksana menggontai, menguakkan ruang antara waktu dan logika .
Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan waktu. Betapa tidak? Cinta tidak akan luput dari sebuah proses. Begitu pun dalam menyerahkan seuntai pernyataan perihal rasa. Menunggu balas kejelasan, yang belum tentu adanya kepastian. Namun lagi-lagi, cinta tetap subur menumbuh. Sungguh, begitu rela keikhlasan ini untuk menunggu sebuah waktu.
Cinta tidak elok jika harus dikaitkan dengan jarak. Betapa tidak? Walau hati yang terpaut jauh, jika dentingan rindu berkumandang, raga pasti akan berkelana. Menyusuri ruang, menyibak segala sela, dan menghantam apa pun yang menghalau. Dan, lagi-lagi, keniscayaan itu adalah buah dari cinta yang telah tumbuh meruah. Sungguh, langkah begitu bijaksana menggontai, menguakkan ruang antara waktu dan logika .
Komentar
Posting Komentar