Waktu kian berputar dan terus berlarian. Membantu lekas menghilangkan perihnya luka. Duka cinta yang kandas di tengah jalan.
Apa kabarkah dirinya?
Bukan. Bukan dia yang telah hilang.
Ini tentang dia yang menyihirku dengan tatapannya.
Aku masih penasaran betul dengan dirinya saat pertama kali bertemu dengannya. Tuhan begitu adil nyatanya. Ia sengaja patahkan bunga yang sudah tak pantas digenggam, disulihkan oleh bunga-bunga baru yang sedang bermekaran.
Kamu. Adalah pemulih perihku.
Kamu. Pencerah piluku yang sempat kelabu.
Kamu. Yang Tuhan ciptakan untuk penawar pedihnya luka masa laluku.
Terima kasih Tuhan.
Entah alasan apa akan menjadi jawaban pada diriku. Hingga hari-hariku begitu murah mengukir senyum yang merekah. Selepas perjumpaan diriku dengan dirinya kala itu.
Aku selalu berharap pada Semesta. Semoga diriku dan dirinya dikembalikan bersua. Aku begitu yakin pada waktu. Kita pasti akan kembali bertemu.
Akan aku luapkan ribuan tanya kepada dirinya. Juga, ada banyak keingin tahuanku perihal dirinya.
Semoga itu terus aku tengadahkan kepada Tuhan.
Malam yang setia dengan sunyinya. Gemintang yang terus berbinar menemani Purnama.
Malam itu, aku dirundung rindu akan dirinya. Ah, aneh sekali diriku. Begitu cepat merindukan pertemuan yang sesingkat kilat. Padahal belum tentu juga dia merasakan yang saat ini aku rasakan.
Tak perdulilah diriku. Tak menggubris pikiranku tentang hal-hal lain selain memikirkannya.
Untuk kali pertamanya aku merasakan api asmara yang membakar separuh hatiku. Jiwaku seakan dibawanya melayang. Ragaku dibuatnya mabuk kepayang.
Nyatanya, bukan hanya ganja yang mudah memabukkan. Dimabuk cinta juga membuat kita mudah berangan-angan.
Andai saja aku tahu namanya, pastilah akan aku geledah segala tentang dirinya. Sayangnya, aku hanya bisa menangkap tatapan matanya. Tatapan yang membuat diriku terus-menerus membayangkannya.
Ya, untuk kali keduanya, aku merasakan jatuh cinta.
Apa kabarkah dirinya?
Bukan. Bukan dia yang telah hilang.
Ini tentang dia yang menyihirku dengan tatapannya.
Aku masih penasaran betul dengan dirinya saat pertama kali bertemu dengannya. Tuhan begitu adil nyatanya. Ia sengaja patahkan bunga yang sudah tak pantas digenggam, disulihkan oleh bunga-bunga baru yang sedang bermekaran.
Kamu. Adalah pemulih perihku.
Kamu. Pencerah piluku yang sempat kelabu.
Kamu. Yang Tuhan ciptakan untuk penawar pedihnya luka masa laluku.
Terima kasih Tuhan.
Entah alasan apa akan menjadi jawaban pada diriku. Hingga hari-hariku begitu murah mengukir senyum yang merekah. Selepas perjumpaan diriku dengan dirinya kala itu.
Aku selalu berharap pada Semesta. Semoga diriku dan dirinya dikembalikan bersua. Aku begitu yakin pada waktu. Kita pasti akan kembali bertemu.
Akan aku luapkan ribuan tanya kepada dirinya. Juga, ada banyak keingin tahuanku perihal dirinya.
Semoga itu terus aku tengadahkan kepada Tuhan.
Malam yang setia dengan sunyinya. Gemintang yang terus berbinar menemani Purnama.
Malam itu, aku dirundung rindu akan dirinya. Ah, aneh sekali diriku. Begitu cepat merindukan pertemuan yang sesingkat kilat. Padahal belum tentu juga dia merasakan yang saat ini aku rasakan.
Tak perdulilah diriku. Tak menggubris pikiranku tentang hal-hal lain selain memikirkannya.
Untuk kali pertamanya aku merasakan api asmara yang membakar separuh hatiku. Jiwaku seakan dibawanya melayang. Ragaku dibuatnya mabuk kepayang.
Nyatanya, bukan hanya ganja yang mudah memabukkan. Dimabuk cinta juga membuat kita mudah berangan-angan.
Andai saja aku tahu namanya, pastilah akan aku geledah segala tentang dirinya. Sayangnya, aku hanya bisa menangkap tatapan matanya. Tatapan yang membuat diriku terus-menerus membayangkannya.
Ya, untuk kali keduanya, aku merasakan jatuh cinta.
Komentar
Posting Komentar