Langsung ke konten utama

Dirundung asmara

Waktu kian berputar dan terus berlarian. Membantu lekas menghilangkan perihnya luka. Duka cinta yang kandas di tengah jalan.

Apa kabarkah dirinya?

Bukan. Bukan dia yang telah hilang.
Ini tentang dia yang menyihirku dengan tatapannya.

Aku masih penasaran betul dengan dirinya saat pertama kali bertemu dengannya. Tuhan begitu adil nyatanya. Ia sengaja patahkan bunga yang sudah tak pantas digenggam, disulihkan oleh bunga-bunga baru yang sedang bermekaran.

Kamu. Adalah pemulih perihku.
Kamu. Pencerah piluku yang sempat kelabu.
Kamu. Yang Tuhan ciptakan untuk penawar pedihnya luka masa laluku.

Terima kasih Tuhan.

Entah alasan apa akan menjadi jawaban pada diriku. Hingga hari-hariku begitu murah mengukir senyum yang merekah. Selepas perjumpaan diriku dengan dirinya kala itu.

Aku selalu berharap pada Semesta. Semoga diriku dan dirinya dikembalikan bersua. Aku begitu yakin pada waktu. Kita pasti akan kembali bertemu.

Akan aku luapkan ribuan tanya kepada dirinya. Juga, ada banyak keingin tahuanku perihal dirinya.

Semoga itu terus aku tengadahkan kepada Tuhan. 

Malam yang setia dengan sunyinya. Gemintang yang terus berbinar menemani Purnama.

Malam itu, aku dirundung rindu akan dirinya. Ah, aneh sekali diriku. Begitu cepat merindukan pertemuan yang sesingkat kilat. Padahal belum tentu juga dia merasakan yang saat ini aku rasakan. 

Tak perdulilah diriku. Tak menggubris pikiranku tentang hal-hal lain selain memikirkannya. 

Untuk kali pertamanya aku merasakan api asmara yang membakar separuh hatiku. Jiwaku seakan dibawanya melayang. Ragaku dibuatnya mabuk kepayang.

Nyatanya, bukan hanya ganja yang mudah memabukkan. Dimabuk cinta juga membuat kita mudah berangan-angan.

Andai saja aku tahu namanya, pastilah akan aku geledah segala tentang dirinya. Sayangnya, aku hanya bisa menangkap tatapan matanya. Tatapan yang membuat diriku terus-menerus membayangkannya.

Ya, untuk kali keduanya, aku merasakan jatuh cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...