Langsung ke konten utama

Praduga kerinduan

Definisi cinta yang sejatinya adalah saling mempercayakan. 
Kau yang dahulu berpesan untuk sejenak pergi untuk sebuah cita-cita yang kau capai.

Sengaja kusematkan pesan berhargamu itu, sebagai definisi cinta yang sejujurnya. 
Tak kuhiraukan seberapa lama waktu yang membujur untuk kembalimu.

Aku hanya yakin bahwa kau akan pulang setelah cita-cita yang kau damba sudah kau gapai. Berbekal sebuah kepercayaan, aku semakin yakin bahwa waktu akan kembali menyatukan.

Aku yang selalu menyisipkan kabar untukmu, walau kau hanya sepintas menjawab kabarmu kepadaku. Aku mafhum. Mungkin kau telah meraih cita-citamu sehingga sibuk mulai meriuhkan waktumu.

Selalu saja aku panjatkan bait-bait do'a yang kudengungkan di setiap sujud terendahku. Untukmu, yang semakin waktu, semakin cemas dan khawatir bersarang dalam pradugaku. Semoga saja menembus ribuan lapis penjuru langit semesta, dan sampai pada pangkuan Tuhan.

Aku kembali melarikkan setiap kata yang terselip jeda. Saat sebelum kau berpesan untuk mengejar cita-cita.

Meratapi kerinduan dalam hamparan kesunyian. Sendirian. Berlarut bersama rindumu, aku terlelap ke dalam mimpiku. Melahirkan perjumpaan denganmu dalam helaian bunga tidurku. Senyummu begitu merekah di dalam pejaman mataku. Aku yang dilanda bingung serta canggung. Tak dapat satu katapun yang sanggup aku ucapkan.

Kau kembali berpesan padaku bahwa, aku tak seharusnya menyisipkan khawatir dalam setiap waktuku. Sepatah kata kembali kau lontarkan, "sudahi menunggu cemas untuk kembaliku. Aku tak ingin hari-harimu dihantui akan gelisah kepadaku." Kata terakhir itu, mengakhiri perjumpaan aku denganmu. Kau bertolak dariku dengan lambaian serta senyummu. Seketika tanganku ingin meraih tanganmu. Namun apa daya, aku tak sempat merebutmu saat kau telah jauh. Aku tahu, ini memang sedikit terdengar klise untukmu. Jika saja Tuhan membalikkan peranku padamu, mungkin demikian pula yang akan kau ratapi.

Tersontak.
Terduduk jasadku dari rebahku.
Lamunanku dipenuhi akan segala penyataan darimu.
Masih saja aku dilanda kelu dan membisu. Dalam keadaan setengah sadarku terjaga di sepertiga malam, begitu jelas terngiang apa yang kau katakan saat mataku terpejam.

Menatapi langit-langit ruang sunyiku, berharap kepada Tuhan. Semoga mimpiku hanyalah sebagai pelengkap nyata bahwa aku memang benar rindu padamu. Meski secarik kabarmu, belum sepenuhnya jelas aku nyatakan .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...