Definisi cinta yang sejatinya adalah saling mempercayakan.
Kau yang dahulu berpesan untuk sejenak pergi untuk sebuah cita-cita yang kau capai.
Sengaja kusematkan pesan berhargamu itu, sebagai definisi cinta yang sejujurnya.
Tak kuhiraukan seberapa lama waktu yang membujur untuk kembalimu.
Aku hanya yakin bahwa kau akan pulang setelah cita-cita yang kau damba sudah kau gapai. Berbekal sebuah kepercayaan, aku semakin yakin bahwa waktu akan kembali menyatukan.
Aku yang selalu menyisipkan kabar untukmu, walau kau hanya sepintas menjawab kabarmu kepadaku. Aku mafhum. Mungkin kau telah meraih cita-citamu sehingga sibuk mulai meriuhkan waktumu.
Selalu saja aku panjatkan bait-bait do'a yang kudengungkan di setiap sujud terendahku. Untukmu, yang semakin waktu, semakin cemas dan khawatir bersarang dalam pradugaku. Semoga saja menembus ribuan lapis penjuru langit semesta, dan sampai pada pangkuan Tuhan.
Aku kembali melarikkan setiap kata yang terselip jeda. Saat sebelum kau berpesan untuk mengejar cita-cita.
Meratapi kerinduan dalam hamparan kesunyian. Sendirian. Berlarut bersama rindumu, aku terlelap ke dalam mimpiku. Melahirkan perjumpaan denganmu dalam helaian bunga tidurku. Senyummu begitu merekah di dalam pejaman mataku. Aku yang dilanda bingung serta canggung. Tak dapat satu katapun yang sanggup aku ucapkan.
Kau kembali berpesan padaku bahwa, aku tak seharusnya menyisipkan khawatir dalam setiap waktuku. Sepatah kata kembali kau lontarkan, "sudahi menunggu cemas untuk kembaliku. Aku tak ingin hari-harimu dihantui akan gelisah kepadaku." Kata terakhir itu, mengakhiri perjumpaan aku denganmu. Kau bertolak dariku dengan lambaian serta senyummu. Seketika tanganku ingin meraih tanganmu. Namun apa daya, aku tak sempat merebutmu saat kau telah jauh. Aku tahu, ini memang sedikit terdengar klise untukmu. Jika saja Tuhan membalikkan peranku padamu, mungkin demikian pula yang akan kau ratapi.
Tersontak.
Terduduk jasadku dari rebahku.
Lamunanku dipenuhi akan segala penyataan darimu.
Masih saja aku dilanda kelu dan membisu. Dalam keadaan setengah sadarku terjaga di sepertiga malam, begitu jelas terngiang apa yang kau katakan saat mataku terpejam.
Menatapi langit-langit ruang sunyiku, berharap kepada Tuhan. Semoga mimpiku hanyalah sebagai pelengkap nyata bahwa aku memang benar rindu padamu. Meski secarik kabarmu, belum sepenuhnya jelas aku nyatakan .
Kau yang dahulu berpesan untuk sejenak pergi untuk sebuah cita-cita yang kau capai.
Sengaja kusematkan pesan berhargamu itu, sebagai definisi cinta yang sejujurnya.
Tak kuhiraukan seberapa lama waktu yang membujur untuk kembalimu.
Aku hanya yakin bahwa kau akan pulang setelah cita-cita yang kau damba sudah kau gapai. Berbekal sebuah kepercayaan, aku semakin yakin bahwa waktu akan kembali menyatukan.
Aku yang selalu menyisipkan kabar untukmu, walau kau hanya sepintas menjawab kabarmu kepadaku. Aku mafhum. Mungkin kau telah meraih cita-citamu sehingga sibuk mulai meriuhkan waktumu.
Selalu saja aku panjatkan bait-bait do'a yang kudengungkan di setiap sujud terendahku. Untukmu, yang semakin waktu, semakin cemas dan khawatir bersarang dalam pradugaku. Semoga saja menembus ribuan lapis penjuru langit semesta, dan sampai pada pangkuan Tuhan.
Aku kembali melarikkan setiap kata yang terselip jeda. Saat sebelum kau berpesan untuk mengejar cita-cita.
Meratapi kerinduan dalam hamparan kesunyian. Sendirian. Berlarut bersama rindumu, aku terlelap ke dalam mimpiku. Melahirkan perjumpaan denganmu dalam helaian bunga tidurku. Senyummu begitu merekah di dalam pejaman mataku. Aku yang dilanda bingung serta canggung. Tak dapat satu katapun yang sanggup aku ucapkan.
Kau kembali berpesan padaku bahwa, aku tak seharusnya menyisipkan khawatir dalam setiap waktuku. Sepatah kata kembali kau lontarkan, "sudahi menunggu cemas untuk kembaliku. Aku tak ingin hari-harimu dihantui akan gelisah kepadaku." Kata terakhir itu, mengakhiri perjumpaan aku denganmu. Kau bertolak dariku dengan lambaian serta senyummu. Seketika tanganku ingin meraih tanganmu. Namun apa daya, aku tak sempat merebutmu saat kau telah jauh. Aku tahu, ini memang sedikit terdengar klise untukmu. Jika saja Tuhan membalikkan peranku padamu, mungkin demikian pula yang akan kau ratapi.
Tersontak.
Terduduk jasadku dari rebahku.
Lamunanku dipenuhi akan segala penyataan darimu.
Masih saja aku dilanda kelu dan membisu. Dalam keadaan setengah sadarku terjaga di sepertiga malam, begitu jelas terngiang apa yang kau katakan saat mataku terpejam.
Menatapi langit-langit ruang sunyiku, berharap kepada Tuhan. Semoga mimpiku hanyalah sebagai pelengkap nyata bahwa aku memang benar rindu padamu. Meski secarik kabarmu, belum sepenuhnya jelas aku nyatakan .
Komentar
Posting Komentar