Langsung ke konten utama

Postingan

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...
Postingan terbaru

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...

Nyanyian Klasik Di Era Positivistik.

  Fenomena keragaman kelompok/aliran yang rentan meletuskan konflik sosial umat bukan hanya terjadi sekarang ini. Berpuluh abad silam, di zaman klasik ketika perkembangan Islam mulai signifikan, konfrontasi politik maupun perbedaan pemikiran teologi telah sukses membidani kelahiran banyak sekte atau aliran ( firqah ) dalam Islam. Kilas balik sejarah itu menunjukkan munculnya sebagian aliran dalam Islam berakar dari pergulatan politik. Klaim-klaim teologis banyak direproduksi untuk menopang kepentingan sekte politik. Sementara itu, sebagian sekte juga muncul karena gejolak pemikiran teologi Islam. Perkembangan sekte-sekte di dalam Islam sekarang ini lebih variatif. Kini bermacam mazhab atau paham muncul dalam fikih, begitu juga dalam tasawuf. Satu sekte pun melahirkan beberapa subsekte yang mempraktikkan ajaran-ajaran berlainan. Berbagai problematika pasca reformasi bagi bangsa Indonesia, pada kenyataannya sangat menyangkut eksistensi perkembangan Islam itu sendiri dan nasib masa ...

Sayembara Manifestasi.

Ada pelangi selepas hujan, badai pasti akan terlewati, yang datang akan pergi, yang hilang pasti berganti; pepatah-pepatah klise yang sering terucap indah untuk sebuah ketenangan. Ya, kedamaian dalam hidup adalah impian bagi setiap makhluk, terlepas dari kita sebagai manusia. Bahwasanya alam yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tak pernah hentinya dilanda kebisingan oleh penghuni-penghuninya. Terlepas dari kita sebagai manusia. Ombak di lautan tak henti-hentinya bergejolak, angin di udara tak ada jedanya menari-nari, pun kita sebagai manusia yang tak luput akan dinamika kehidupan. Pasang surut dinamika kehidupan sudah pasti dirasakan oleh tiap-tiap makhluk yang pada dirinya embusan napas itu tak sedetik pun terlewati tanpa arti. Sebagai perwujudan eksistensi yang paling tinggi kedudukannya di antara beragam manifestasi-Nya, manusia adalah contoh yang paling konkret untuk menafsirkan mengapa Tuhan mengadakan sayembara dengan berbagai macam hadiah untuk para pemenangnya. De...

Menuju Aqil Baligh.

  Dinamika polemik yang terjadi belakangan ini seakan menggetarkan kesadaran jiwa-jiwa yang telah lama bersemayam di dalam ketidakpastian arah dan tujuan. Lika-liku yang meniti kerap mewarnai proses perubahan atas tujuan-tujuan yang diharapkan oleh para pendahulu.   Pemangku kebijakan saat ini banyak menimbulkan kekeliruan terhadap segala kebijakan yang diputuskan tanpa konsiderasi dari apa yang telah ditetapkan. Ketidakteraturan tersebut menyadarkan masyarakat bahwasanya pemerintah saat ini kehilangan sebuah konsep pemetaan dari sistem yang dibuatnya.   Asumsi—demonstrasi yang turut mewarnai polemik yang terjadi saat ini, menandakan bahwasanya kebijakan pemerintah tidak melahirkan kebijakan yang dinilai adil terutama bagi masyarakat yang terkena dampaknya, justru banyak menguntungkan bagi mereka penunggang kebijakan.   Gerakan-gerakan masif yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat terkait kebijakan pemerintah kendati selalu mendapat perlakuan repre...

Anjing Yang Pandai Berkicau

Rintihan sendu yang mencekik keadaan Disisir bising celoteh kemunafikan Terharu di bawah lapisan hitam—kepanasan Terhura-hura di balik kemegahan, hasil rampasan Nestapa yang nihil dihindarkan Telak dirasa karena moncong-moncong paksaan Proses dari keringat basah yang bercucuran Hanya diupahi beberapa keping recehan Nyawa, sawah, lahan rakyat yang jadi taruhan Dinikmati cuma-cuma oleh keparat yang penuh bualan Bangsat, bukan?! Senandung desah memperkosa keadilan Sumpah suci yang diikrarkan atas nama Al Quran Harus tercemar bagai sampah busuk yang berserakan Gedung putih jadi tempat bersarangnya keserakahan! Ya, asyik bersanggama di tengah krisis kesetaraan. Akal waras yang tak pernah dibimbing Menggong-gong kesejahteraan begitu nyaring Gemerlap safari yang selalu dikancing Semerbak aromanya menyengat seperti pesing Di mana ada lahan, di situlah tempatnya kencing Lantas, apa bedanya dengan anjing?! Merawat peradaban dengan akal sinting Melahirkan budaya yang mudah menuding Yang salah bi...