Langsung ke konten utama

Sayembara Manifestasi.

Ada pelangi selepas hujan, badai pasti akan terlewati, yang datang akan pergi, yang hilang pasti berganti; pepatah-pepatah klise yang sering terucap indah untuk sebuah ketenangan.

Ya, kedamaian dalam hidup adalah impian bagi setiap makhluk, terlepas dari kita sebagai manusia. Bahwasanya alam yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tak pernah hentinya dilanda kebisingan oleh penghuni-penghuninya. Terlepas dari kita sebagai manusia.

Ombak di lautan tak henti-hentinya bergejolak, angin di udara tak ada jedanya menari-nari, pun kita sebagai manusia yang tak luput akan dinamika kehidupan. Pasang surut dinamika kehidupan sudah pasti dirasakan oleh tiap-tiap makhluk yang pada dirinya embusan napas itu tak sedetik pun terlewati tanpa arti.

Sebagai perwujudan eksistensi yang paling tinggi kedudukannya di antara beragam manifestasi-Nya, manusia adalah contoh yang paling konkret untuk menafsirkan mengapa Tuhan mengadakan sayembara dengan berbagai macam hadiah untuk para pemenangnya. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di dalamnya.

Kedudukan yang Tuhan sematkan pada diri manusia tidak hanya sekedar menjadikannya wakil Tuhan di muka bumi. Lebih dari itu, manusia bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi di muka bumi ini. Mulai dari pertama kali manusia tercipta, hingga pada akhirnya binasa.

Pertanyaan sederhana yang sedari awal sudah dilontarkan, kini menjadi persoalan yang rumit bahkan sangat serius ketika diperbincangkan. Entah karena sebuah hasrat penasaran, entah karena belum terpenuhinya pengetahuan, atau memang sebab dorongan kebodohan yang selalu menuntut untuk diwujudkan. Semuanya itu tak lepas daripada hilangnya kesucian yang sudah disematkan jauh sebelum manusia mempertanyakan sebuah “ke-ada-an”.

Skeptisisme yang melanda manusia akan manifestasi-Nya, membuat manusia semakin jauh mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin ia mengenali dirinya, sedangkan ia masih dirundung keraguan bahkan menafikkan Penciptanya.

Dominasi akulturasi yang tidak terkontrol banyak melahirkan distraksi dari kemurnian akal manusia yang sedari awal diciptakannya telah membuat konsensus dengan Tuhan. Namun kini, persaksian primordial itu telah lenyap atas keraguan yang tidak diimbangi dengan keyakinan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...