Ada pelangi selepas hujan, badai pasti akan terlewati, yang datang akan pergi, yang hilang pasti berganti; pepatah-pepatah klise yang sering terucap indah untuk sebuah ketenangan.
Ya, kedamaian dalam hidup adalah impian bagi setiap makhluk, terlepas dari kita sebagai manusia. Bahwasanya alam yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tak pernah hentinya dilanda kebisingan oleh penghuni-penghuninya. Terlepas dari kita sebagai manusia.
Ombak di lautan tak henti-hentinya bergejolak, angin di udara tak ada jedanya menari-nari, pun kita sebagai manusia yang tak luput akan dinamika kehidupan. Pasang surut dinamika kehidupan sudah pasti dirasakan oleh tiap-tiap makhluk yang pada dirinya embusan napas itu tak sedetik pun terlewati tanpa arti.
Sebagai perwujudan eksistensi yang paling tinggi kedudukannya di antara beragam manifestasi-Nya, manusia adalah contoh yang paling konkret untuk menafsirkan mengapa Tuhan mengadakan sayembara dengan berbagai macam hadiah untuk para pemenangnya. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di dalamnya.
Kedudukan yang Tuhan sematkan pada diri manusia tidak hanya sekedar menjadikannya wakil Tuhan di muka bumi. Lebih dari itu, manusia bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi di muka bumi ini. Mulai dari pertama kali manusia tercipta, hingga pada akhirnya binasa.
Pertanyaan sederhana yang sedari awal sudah dilontarkan, kini menjadi persoalan yang rumit bahkan sangat serius ketika diperbincangkan. Entah karena sebuah hasrat penasaran, entah karena belum terpenuhinya pengetahuan, atau memang sebab dorongan kebodohan yang selalu menuntut untuk diwujudkan. Semuanya itu tak lepas daripada hilangnya kesucian yang sudah disematkan jauh sebelum manusia mempertanyakan sebuah “ke-ada-an”.
Skeptisisme yang melanda manusia akan manifestasi-Nya, membuat manusia semakin jauh mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin ia mengenali dirinya, sedangkan ia masih dirundung keraguan bahkan menafikkan Penciptanya.
Dominasi akulturasi yang tidak terkontrol banyak melahirkan distraksi dari kemurnian akal manusia yang sedari awal diciptakannya telah membuat konsensus dengan Tuhan. Namun kini, persaksian primordial itu telah lenyap atas keraguan yang tidak diimbangi dengan keyakinan.
Komentar
Posting Komentar