Langsung ke konten utama

Peradaban Pandemi

Dalam kurun waktu yang cukup lama kita mendiami bumi.Berbagai macam hal yang telah kita pelajari dalam hidup ini.

Teriring masa yang terus memberikan pengalaman yang kita jalani. Beragam teori mengenai kehidupan yang sejak lama bahkan sampai kini terus dipelajari. 

Melahirkan beragam gagasan untuk berlangsungnya perubahan.Namun, semua itu adalah hal yang semu. Hingga dewasa ini, Dunia masih terselimuti oleh misteri.

Bagi mereka yang memahami tentang sejarah kehidupan, hal demikian masih tersemat menjadi bahan diskusi. Bagi sebagian orang, Dunia ini adalah konspirasi. Dan sebagian lainnya, Dunia ini adalah ladangnya para makhluk-makluk ber-akal yang penuh ambisi.

Kehidupan sematanya berjalan dengan ramahnya kedamaian, selepas perjanjian yang diikarkan dari masa-masa kebrutalan. Dan seketika, seisi Dunia menjadi gempar, semuanya terasa bergetar, hingga satu per satu berpendar.

Sebuah serangan yang membuat semuanya menjadi hening dalam kurun waktu yang begitu singkat. Sebuah ancaman yang menjadikan seluruhnya sunyi dalam sekejap. Tak ada lagi kebisingan.

Semua keterbiasaan hidup lenyap begitu saja. Tak ada lagi hiruk-pikuk keramaian. Semua keberlangsungan hidup terjeda hanya sekelibat mata. Ya, segalanya yang telah terjalin sanding, harus terpaksa menjadi asing. 

Butiran-butiran debu menebalkan bangku-bangku pendidikan. Berjarak jauh demi sebuah transaksi kebutuhan pangan. Menabung kerinduan untuk pulang ke kampung halaman. Ya, segalanya yang telah menjadi tradisi, harus rela berhenti lantaran pandemi.

Entah sampai kapan harus membiasakan hidup dalam keadaan seperti ini. Entah hal apa lagi untuk menyamankan diri pada situasi hidup seperti ini. Memaksakan nyaman mungkin bisa dibiasakan. Namun, kejenuhan sangat sukar dinyamankan .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...