Pembangunan dan pertahanan yang sama-sama memiliki misi untuk kesejahteraan. Kerap kali menuai konflik yang berkepanjangan.
Berangkat dari gugusan pulaunya yang menjadikan Negeri ini sebagai satu dari lainnya Negara kepulauan terbesar di Dunia. Tanahnya yang subur, minyak buminya yang seakan tak ada hentinya mengucur. Dan segala apapun yang ditanam di tanah Negeri ini, niscaya akan tumbuh dan subur.
Konsentrasi pemerintah yang semakin melajukan kecepatan pembangunan-pembangunan dalam sektor infrastruktur, ironisnya melegalkan berbagai cara demi keuntungan mereka dan juga kaum kapitalistik.
Mulai dari pesisir pantai, pedesaan, hingga ke pelosok hutan. Yang mengharuskan pribumi dari daerah yang sudah ditargetkan, kehilangan mata pencaharian kehidupannya. Nelayan tak lagi mendayung, petani pun harus terpaksa menggantung cangkul.
Semakin digerus lahan dan tanah yang mereka tinggali, semakin jauh mereka harus meninggalkan tanahnya sendiri. Menjadi pekerja migran di tengah ramainya arus gengsi di metropolitan. Yang mengakibatkan, generasi-generasi muda petani di pedesaan, sudah asing dengan benda yang bernama cangkul.
Dan tidak dipungkiri bahwa semua itu dilakukan dalam rangka menciptakan suatu cara hidup baru dengan gaya perkotaan, yang dianggap sebagai keniscayaan yang harus ditempuh.
Sisi lain dari cara perluasan sistem-sistem produksi komoditas global, khususnya cara perluasan melalui konsesi-konsesi proyek pertambangan, kehutanan, perkebunan, infrastruktur dan lain sebagainya.
Produktivitas rakyat yang hidup di lokasi-lokasi sasaran perluasaan itu sesungguhnya diabaikan dan sama sekali tidak diperhitungkan, apalagi dihargai. Sebab utama dari porak-porandanya kehidupan rakyat dan tanah air yang berlangsung secara sistematik, sebagai akibat dari reorganisasi ruang untuk perluasan sistem produksi yang bercorak kapitalistik demi menghasilkan komoditas-komoditas global.
Merampas keasriannya, Menjual tanahnya, Mengusir rakyatnya.
Dalam karyanya, Hobsbawm (Age of Extremes) mengutip, "Perubahan paling dramatis dalam paruh kedua abad ini, yang untuk selamanya memisahkan kita dari dunia masa lampau, adalah kematian petani."
Komentar
Posting Komentar