Manisnya mentari yang dijejal sunyi,
Mengheningkan riuh pada ruang-ruang yang bertepi.
Apa kabar guru-guruku?
Apa kabar sahabat-sahabatku?
Lebih dari selusin bulan kita tak bertemu,
Semoga, segala kebaikan senantiasa menyertaimu.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,
Atas segala karunia-Nya,
kita semua masih diberikan kesempatan, untuk bersua,
Walau harus memikul beban rindu, di balik layar kaca.
Maafkan daku, tak mampu menyapa secara langsung.
Lantaran pandemi, yang seakan membuatku terpasung.
Maafkan daku, hanya melalui virtual kuberi sepucuk kabar.
Kerana pandemi, yang kian hari, membuat kita seraya berpendar.
Tak terasa,
Sungguh, sukar untuk dipercaya,
Bahwa daku, beserta para sahabatku,
akan mengenang masa-masa SMA,
Berikut seragam kebanggaan,
yang akan menjadi kesan di masa tua.
Tak dapat kucegat,
Waktu yang kian bergulir sangat cepat,
Silih bergantinya hari yang kian melesat,
Mengisahkan putih abu-abu yang begitu singkat,
Sebab pandemi, yang hadir tak bersurat—tanpa memberi isyarat.
Seperti halnya sebuah cerita, yang pasti berakhir,
Daku berharap, kenangan ini akan tetap terukir,
Sampai tua nanti, sampai kita bertemu dengan takdir.
Bertemu akan berpisah; kata pepatah.
Ahh, ini hal yang paling membuat daku resah,
Perihal suka dan duka, canda dan tawa, yang daku nikmati semasa sekolah,
Perihal semua kenangan, yang akan menjelma sebagai kisah.
Namun nyata, berkata; cukup sudah.
Sungguh.. sungguh tak diinginkan,
Menyuguhkan kepergian,
Merintihkan kerinduan.
Walaupun memang pahit, pasrah kutelan,
Merelakan sebuah keharusan,
Melepasnya dari eratan genggaman,
Demi menyambut yang sesungguhnya makna kehidupan.
Daku dekap erat, segenap kenangan,
Sebelum segalanya direnggut oleh kenyataan,
Merangkai manis dan pahitnya, masa-masa pendidikan,
Sebelum ruang sunyi terpenuhi akan kesibukan, impian.
Ini hanya sebuah mimpi.
Ya, INI HANYALAH MIMPI.
APA? BENARKAH, BUKAN MIMPI?
OHH, TIDAK!
Daku begitu larut,
daku terlelap,
dalam lamanunan eksistensi pandemi.
Sungguh, sungguh tak dinyana. Daku harus menelan kenyataan ini.
Bu, Pak,
Jujur, Daku ingin sekali, merayakan kelulusan ini dengan akhir yang bahagia,
Dengan tradisi yang semestinya,
Selayaknya mereka, yang digelari medali, di ruang wisuda,
Bukan mengakhiri catatan ini, dengan cara bertatap muka.
Sungguh.
Rasa iri dan sedih tak dapat kusibak.
Namun, perkara takdir Tuhan, mustahil daku tolak.
Berbagai ekspektasi yang daku rancang sedemikian rupa,
Harapan-harapan yang daku lantunkan di setiap do'a,
Namun, semuanya harus kandas ditelan realita.
Oh, Tuhan,
Daku tahu, semua ini sudah Engkau gariskan,
Daku tahu, akan ada hikmah di balik setiap cobaan,
Namun, satu pintaku saja, Tuhan,
Daku berharap, kehidupan ini kembali berjalan,
tanpa adanya sekat-sekatan, tanpa harus berjauh-jauhan,
sewajarnya—tanpa dirundung kecemasan.
Sebagai penutup dari catatan Putih abu-abuku;
Untukmu,
duhai Bapak-Ibu guru,
Maafkan daku, jika sering memancing amarahmu,
Maafkan daku, jika sering lalai mengumpulkan tugas kepadamu,
Maafkan daku, duhai Bapak-Ibu guru,
jika pernah membuat jatuh air matamu.
Jasamu akan abadi dalam sanubariku,
Engkaulah cahaya dalam kegelapanku,
Engkaulah penuntun arah hidupku,
Dan engkaulah,
Pahlawan yang tak lekang digerus oleh zaman dan waktu.
Dan untukmu,
wahai sahabat-sahabat seperjuanganku,
Entah engkau, yang senantiasa menjadi pelipur di kala sedihku,
Entah engkau, yang rela menjadi bahu di waktu lelahku,
Dan entah siapa pun itu, maafkan daku,
ika terdapat banyak salah dan khilaf dalam diriku,
Kenangan bersamamu, wahai sahabat-sahabatku,
Kusemayamkan di relung hatiku.
Laksana embun di pagi buta,
Janganlah melangit di kala membumi.
Biarpun telah usai masa-masa SMA,
Semoga turut berakhir pula wabah pandemi.
Komentar
Posting Komentar