Langsung ke konten utama

Jalan Buntu Moralisme.

Problematika yang masih menjadi kesenjangan sosial dalam kultur masyarakat madani, yang hingga kini belum mencapai totalitas dalam penanganannya adalah masih tingginya angka kemiskinan.

Dalam hal ini pun bukan hanya soal kemiskinan yang menjadi faktor dan penyebab dari ketimpangan, namun juga ada faktor lain mengapa kultur sosial masyarakat kita saat ini masih terbilang yang terbelakang, yakni soal sistem pendidikan.

Sepanjang sejarah bangsa ini berdiri agaknya memang diperlukannya sebuah inovasi, terutama dalam hal metode pendidikan sebagai fasilitas dan juga tujuan bangsa ini yang tertuang dalam undang-undang dasar 1945.

Berbagai ide dan gagasan yang diprogramkan untuk kemajuan sistem pendidikan, hingga saat ini belum sepenuhnya tercapai. Maju mundurnya konsepsi yang dirancang menjadi faktor yang menghambat jalannya perubahan sistem pendidikan.

Dan juga kurangnya penyuluhan dari pemerintah terhadap para pelaku pendidikan yang semestinya mendapatkan atensi (anak-anak dari keluarga yang minim ekonominya sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya—tak sempat bersekolah karena tuntutan ekonomi yang mengharuskannya untuk ikut mengucurkan peluh).

Narasi yang disampaikan sekolah tidak benar-benar merasuk pada sistem pembelajaran. Bahwa sebagian anak-anak harus memaksakan sebuah metode yang tidak sesuai dengan kapasitasnya hanya karena sebuah tuntutan yang objektif. Bisa dikatakan mereka mengalami hambatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Dasar-dasar dari metode pendidikan kita tidak seharusnya berpusat pada prinsipnya saja. Sebab ada yang lebih utama dari sekedar kualitas, yakni kuantitas pada nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

Lebih dari itu mengenai mekanisme pendidikan kita saat ini. Bahwasanya peranan orang tua sangat berpotensi untuk perkembangan belajar anak selain hanya berkutat di lingkup sekolah. Namun dewasa ini peranan orang tua tidak lagi berdedikasi pada proses belajar si anak.

Sangat disayangkan ketika orang tua tidak lagi turut berperan untuk perkembangan belajar si anak, serta kurangnya motivasi dan dorongan moril yang diberikan kepada anak mengenai perkembangan belajarnya.

Seraya ada yang lenyap di dalam kultur masyarakat kita. Kemajuan zaman justru mengimplikasikan kemunduran moral di tengah masyarakat kita yang baru berkenalan kemarin sore tentang “modernisasi”. Nilai-nilai luhur yang tertanam tidak lagi dituainya. Fanatisme terhadap hal demikian telah memabukkan masyarakat kita yang konsumtif.

Jangan maling, nanti dibui.
Jangan korupsi, nanti difasilitai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...