Peradaban manusia telah banyak menodai proses kehidupannya sendiri.
Ekstremisme keadaan yang sedang marak menawarkan pandangan tentang pengakuan atas keyakinan. Dialektika pun seakan menjadi alat komoditas khusus demi menarik atensi pelanggan yang ditargetkan.
Kendati dalam hal ini adalah proses penawaran itu sendiri yang membandingkan kebenaran yang ditawarkan terhadap banyaknya kebenaran. Akibatnya timbul persepsi yang menyebutkan bahwa komoditas keyakinan adalah ajang kompetitor untuk keyakinan itu sendiri.
Dewasa ini kita sering dihadapkan antara satu sama lainnya terhadap suatu pembenaran yang masih menjadi spekulatif. Dengan demikian, banyaknya argumen dari berbagai perspektif pun tak dapat disangkal kehadirannya.
Dalil-dalil yang mengatasnamakan Tuhan tidak lagi disucikan lantaran banyaknya ketidak warasan yang disebarkan, yang menimbulkan stigma bahwa dalil yang dibawakan hanya untuk semata kepentingan.
Propaganda yang diberikan layaknya kurikulum yang diajarkan pada proses pendalaman keyakinan itu sendiri. Dalam hal ini lahirlah distansi dari siasat doktrinasi yang bersifat pragmatis.
Dan kita kerap dihadapkan pada situasi retorika di tengah perspektif yang saling beradu kuat mengemukakan argumentasi. Dan kita pula yang menyebabkan terjadinya dikotomi.
Makna Tuhan tidak lagi menjadi falsafah murni atas proses kehidupan; akibat multitafsir yang menodai firman-firman Tuhan dan juga riuhnya pertentangan antara kebenaran dan pembenaran.
Dengan apatisnya segala jaminan yang Tuhan janjikan tidak lagi menjadi pengharapan yang mulia. Sebab arus komoditas global yang tengah berperan pada abad mutakhir ini menjanjikan jaminan kepastian bagi siapa yang bersedia mengikuti aturan. Namun ironisnya jaminan yang telah disepakati hanyalah omong kosong belaka.
Kambing hitam yang tersistematis. Di tengah panasnya api perundingan, gunung-gunung seraya mainan yang mudah dirancang.
Kehadirannya kini dianggap sebagai ancaman.
Komentar
Posting Komentar