Langsung ke konten utama

Brubuh Cendeng.

Peradaban manusia telah banyak menodai proses kehidupannya sendiri.
Ekstremisme keadaan yang sedang marak menawarkan pandangan tentang pengakuan atas keyakinan. Dialektika pun seakan menjadi alat komoditas khusus demi menarik atensi pelanggan yang ditargetkan.

Kendati dalam hal ini adalah proses penawaran itu sendiri yang membandingkan kebenaran yang ditawarkan terhadap banyaknya kebenaran. Akibatnya timbul persepsi yang menyebutkan bahwa komoditas keyakinan adalah ajang kompetitor untuk keyakinan itu sendiri.

Dewasa ini kita sering dihadapkan antara satu sama lainnya terhadap suatu pembenaran yang masih menjadi spekulatif. Dengan demikian, banyaknya argumen dari berbagai perspektif pun tak dapat disangkal kehadirannya. 

Dalil-dalil yang mengatasnamakan Tuhan tidak lagi disucikan lantaran banyaknya ketidak warasan yang disebarkan, yang menimbulkan stigma bahwa dalil yang dibawakan hanya untuk semata kepentingan.

Propaganda yang diberikan layaknya kurikulum yang diajarkan pada proses pendalaman keyakinan itu sendiri. Dalam hal ini lahirlah distansi dari siasat doktrinasi yang bersifat pragmatis.

Dan kita kerap dihadapkan pada situasi retorika di tengah perspektif yang saling beradu kuat mengemukakan argumentasi. Dan kita pula yang menyebabkan terjadinya dikotomi.

Makna Tuhan tidak lagi menjadi falsafah murni atas proses kehidupan; akibat multitafsir yang menodai firman-firman Tuhan dan juga riuhnya pertentangan antara kebenaran dan pembenaran.

Dengan apatisnya segala jaminan yang Tuhan janjikan tidak lagi menjadi pengharapan yang mulia. Sebab arus komoditas global yang tengah berperan pada abad mutakhir ini menjanjikan jaminan kepastian bagi siapa yang bersedia mengikuti aturan. Namun ironisnya jaminan yang telah disepakati hanyalah omong kosong belaka.

Kambing hitam yang tersistematis. Di tengah panasnya api perundingan, gunung-gunung seraya mainan yang mudah dirancang.

Kehadirannya kini dianggap sebagai ancaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...