Ibu Pertiwi bukanlah judul dari pertunjukkan teater yang diwariskan oleh sejarah. Sebagaimana kita yang diwariskan dengan berbagai ceritanya, bukan berarti kita hanya duduk termangu menikmati setiap bait alurnya. Jika memang sejarah itu adalah pertunjukkan teater, apa salahnya jika kita turut mendalami dalam alur kisahnya? turut merasakan setiap peluh suka-dukanya?. Bukankah kisah yang dituturkan menurut versi nyata; Bukan hanya sekadar semboyan, bukan bersifat fiksi, apalagi mengandung unsur fiktif belaka.
Merah Putih harus tetap berkibar meski biasnya Matahari yang terus menghamparkan teriknya. Merah adalah keberanian. Dan Putih ialah kelembutan. Putih bukanlah kafan yang disemayamkan ke dalam tanah. Dan Merah bukanlah banaspati yang apinya selalu gencar menemui sasarannya. Meski Merah Putih sendiri adalah helaian benang yang layu ketika dibasuh Air, yang lenyap jika dimakan Api. Tiliklah ke dalam rajutan sang Saka. Di sana bersemayam kesejukkan dan kesetiaan dalam setiap sulamannya sehingga menjadi untaian Pusaka. Sambung-menyambunglah menjadi satu, dan mengeratlah dalam keberagaman bersatu padu.
Layaknya Sang Garuda yang gagah ketika di udara, yang bijaksana ketika tegap di tenggernya; 17 helai bulu pada masing-masing sayapnya, 8 helai bulu yang tertera pada ekornya, 19 helai bulu yang tersambung di pangkal ekornya, serta 45 helai bulu yang menghiasi lehernya. Serangkaian filosofi yang melambangkan betapa besarnya ketika perpaduan mengerat menjadi satu-kesatuan .
Komentar
Posting Komentar