Langsung ke konten utama

Senjausia.

Ibu Pertiwi bukanlah judul dari pertunjukkan teater yang diwariskan oleh sejarah. Sebagaimana kita yang diwariskan dengan berbagai ceritanya, bukan berarti kita hanya duduk termangu menikmati setiap bait alurnya. Jika memang sejarah itu adalah pertunjukkan teater, apa salahnya jika kita turut mendalami dalam alur kisahnya? turut merasakan setiap peluh suka-dukanya?. Bukankah kisah yang dituturkan menurut versi nyata; Bukan hanya sekadar semboyan, bukan bersifat fiksi, apalagi mengandung unsur fiktif belaka.

Merah Putih harus tetap berkibar meski biasnya Matahari yang terus menghamparkan teriknya. Merah adalah keberanian. Dan Putih ialah kelembutan. Putih bukanlah kafan yang disemayamkan ke dalam tanah. Dan Merah bukanlah banaspati yang apinya selalu gencar menemui sasarannya. Meski Merah Putih sendiri adalah helaian benang yang layu ketika dibasuh Air, yang lenyap jika dimakan Api. Tiliklah ke dalam rajutan sang Saka. Di sana bersemayam kesejukkan dan kesetiaan dalam setiap sulamannya sehingga menjadi untaian Pusaka. Sambung-menyambunglah menjadi satu, dan mengeratlah dalam keberagaman bersatu padu.

Layaknya Sang Garuda yang gagah ketika di udara, yang bijaksana ketika tegap di tenggernya; 17 helai bulu pada masing-masing sayapnya, 8 helai bulu yang tertera pada ekornya, 19 helai bulu yang tersambung di pangkal ekornya, serta 45 helai bulu yang menghiasi lehernya. Serangkaian filosofi yang melambangkan betapa besarnya ketika perpaduan mengerat menjadi satu-kesatuan .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengakhiri Tanpa Memulai.

Kepada tanya yang belum sempat memberikan persoalan, pun dengan segala jawaban yang tidak pernah dimulai dengan pertanyaan. Kita yang sedari awal memang belum terikat satu sama lain, namun dipaksa memilih untuk sebuah keharusan yang tidak pernah kita ingin. Berlalu cukup lama hatiku hampa yang membuat mati rasa bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Terlalu lama menyamankan diri dalam kesendirian, tanpa pernah aku pikirkan bagaimana caranya menyatakan sebuah perasaan. Ego telah menguasai diriku sejak peristiwa tujuh tahun lalu. Antara ingin kembali menghadirkan cinta setelah sekian lama, atau memilih untuk kembali dalam kesendirian dan dibalut sunyi tanpa romantisasi cinta. Namun, ada beberapa hal yang kurasa harus segera diperbaiki perihal hati. Cinta bukan lagi soal ikrar dan janji; meyakinkan diri pada pilihan yang didasari dari cinta kendati menimbulkan perdebatan antara pikiran dan hati. Bukan waktu yang singkat ketika aku memilih untuk menyendiri karena persoalan cinta yang tak direstu...

Merawat Nelangsa.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur. Sekuat-kuatnya hati bersikap tegar, suatu saat akan lebur. Bahtera ini bukanlah yang pertama kalinya berlabuh untuk mengarungi samudera kehidupan. Bahkan telah berkali-kali bahtera ini menyeruak ombak di lautan, berlayar tak bertepian, hingga kehilangan arah dan tujuan. Bukan suatu kecemasan tentang sebuah kepergian, hatiku sudah norma perihal kehilangan. Nestapa yang tak pernah diharapkan, adalah hal lumrah yang pasrah kutelan. Kehadirannya tanpa secarik suratan, Kuterima dengan senyuman. Kehadirannya tanpa pernah diduga, Kuterima dengan lapang dada. Kehadirannya mengundang ribuan tanya, Kepergiannya tanpa alasan yang nyata. Ini bukan salahnya, bukan karena kehadirannya, bukan pula soal kepergiannya. Seharusnya aku yang tidak begitu lapang menerima dan terlena pada kilauan asmara. Untuk kesekian kalinya aku menghadapi dingin yang tak berkesudahan. Merawat hangat di tengah badai keambiguan. Haruskah aku akhiri saja penantian ini? Perihal asa ya...

Ditikam Ambisi, Dibunuh Hegemoni.

Keharmonisan yang seperti apa hingga merelakan kekacauan menjadi hal lumrah untuk dipertontonkan? Kedamaian yang seperti apa hingga jutaan nyawa tanpa dosa dihilangkan begitu saja dengan sengaja? Kebebasan yang seperti apa hingga kebenaran dengan mudahnya malah dijadikan sebagai kambing hitam? Perjanjian hanyalah sebuah formalitas di atas kertas. Dibalik konsensus yang disiasati, ada kesepakatan baru yang melahirkan algojo-algojo biadab—tanpa hati nurani bertindak dan menindas. Sejarah peradaban manusia memang tak akan lepas dari berbagai peristiwa di dalamnya; teori bahwa sejarah dilukiskan oleh pemenang, sejarah hanya milik mereka yang berkuasa; apakah mereka yang dirinya tidak terekspose bukan bagian dari sejarah? Bagaimana dengan mereka yang memberi sumbangsih besar terhadap proses sejarah melalui idenya? Bukankah itu semua termasuk ke dalam unsur sejarah? Ironisnya, bukan soal sejarah yang kelam. Tapi memang ada faktor lain mengapa mereka memutarbalikkan fakta-fakta sejarah. Fakt...